Feeds:
Pos
Komentar

teori komunikasi

TEORI – TEORI KOMUNIKASI

Oleh : BAHTIAR

09 KOMI 1698

PENDAHULUAN

Istilah komunikasi sudah lazim kita dengarkan, namun didefinisikan secara luas sebagai “berbagai pengalaman”. Jika dilacak dari akar katanya, maka kata komunikasi atau communicatio dalam bahasa Inggris berasal dari kata latin communis yang berarti sama communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (to make cammon). (Gorden, 1978 : 28) Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal usul kata komunikasi yang merupakan akar dari kata latin lainnya yang sama makna. Definisi lain yang sama makna dengan komunikasi adalah komunitas (community) yang juga menekankan kesamaan dan kebersamaan. Kata ini merujuk kepada sekelompok yang berkumpul atau hidup bersama untuk mencapai tujuan tertentu sebagai proses pembagian makna dan sikap. Meskipun terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan komunikasi dan Ilmu Pengetahuan. Namun definisi yang memiliki kerja secara teoritis ilmu komunikasi dapat dijelaskan. Yaitu ilmu komunikasi berusaha menjelaskan dan memahami produksi, pengolahan dan pengaruh system symbol dan isyarat dengan mengembangkan sejumlah teori yang dapat diuji yang berisi berbagai generalisasi yang menjelaskan fenomena yang dikaitkan dengan produksi, pengolahan dan pengaruh. Perkembangan Teori- Teori Ilmu Komunikasi Pergeseran yang mendasar tentang teori-teori komunikasi adalah pendekatan pada ilmu-ilmu murni di abad ke 19. (Lubis, tt: 7) Untuk merunut jalan pikir kita dalam memahami bagaimana proses pengembangan teoritis Ilmu Komunikasi, maka ada perlu kiranya kita lebih jauh mencari pandangan yang luas tentang maksud teori secara luas. Menurut Kerlinger (1993) teori adalah himpunan konstruks (konsep), definisi dan proporsi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala yang menjabarkan relasi diantara Variabel untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengenal teori, ketiga hal tersebut adalah: 1). Teori adalah sebuah set proporsi yang terdiri dari konstrak (construct) yang sudah didefinikan secara luas dengan hubungan unsur-unsur dalam tersebut secara jelas. 2). Teori menjelaskan hubungan antar variable atau antar konstrak (contruct) sehingga pandangan yang sistematik dari fenomena-fenomena yang diterangkan oleh variable dengan jelas kelihatan. 3). Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel mana yang berhubungan dengan variabel mana. (Nasir, 1988 : 21) Setiap Ilmu pengetahuan (penelitian) membutuhkan teori, karena dengan teori dapat memandu penelitian yang dilakukan memberikan hasil yang diharapkan. Teori adalah alat dari ilmu (too of science), namun secara simultan teori juga dapat menjadi alat pendukung dari sebuah teori lain. Teori sebagai alat dari ilmu mempunyai peranan, antara lain :1) Teori mendefinisikan Orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi terhadap jenis-jenis data yang akan dibuat abtraksinya. 2) Teori memberikan rencana konseptual, dengan rencana mana fenomena-fenomena yang releven disestematiskan, diklaifikasikan dan dihubung-hubungkan. Fungsi teori ada dua, pertama teori merupakan alat untuk mencapai suatu pengetahuan yang sistematis. Teori sangat penting dalam menjelaskan pengetahuan sebagai dasar organisasi pemikiran. Kedua, teori membimbing penelitian, dari teori dapat dijabarkan hipotesis baru. Bila ada teori yang berlawanan, penelitian dapat menguji yang mana diantara teori itu yang benar. Everett M. Rogers dalam bukunya “Communication Technology, The New Media in Society” (1986) menyebutkan bahwa sejak tahun 1800 sudah tampak pengaruh pemikiran para pakar ilmu social di universitas di eropa terhadap ilmu komunikasi. TEORI KOMUNIKASI 1. Harolld Laswell’s Model Sejumlah pakar teori telah memberikan konsep-konsep umum dari komunikasi dalam simple bahkan simplistic. Satu konsepsi dari yang paling awal dan terkenal adalah Karya Harolld Laswell (Littlejohn, 1989:267). Sebagai konsepsi dan formulasi pemula, komunikasi pertama sekali di kembangkan oleh Aristoteles dengan formulasi tiga unsure, yakni sumber, pesan dan penerima. Menurut Laswell cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan yang secara verbal dirumuskannya yaitu : who says what in which channel to whom with what effect (siapa, mengatakan apa, dengan saluran yang mana, kepada siapa dan dengan efek yang bagaimana). formulasi ini di kemukakan oleh Laswell untuk menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya dalam masyarakat. Fungsi komunikasi terdiri : pertama, the surveillance of the invironment (sebagai pengawas lingkungan), yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkungan. Kedua, the correlation of the parts of society in responding to the environment (korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespons lingkungan). Ketiga the transmission of the social heritage form one generation to the next (trasmisi warisan social dari suatu generasi ke generasi berikutnya) (Effendi, 2000: 254). Analisis Fungsi Teori Laswell Jika melihat dan menganalisa formula yang di gagas oleh Laswell tentang komunikasi, sangatlah jelas bahwa formula ini tidak tepat untuk dijadikan tolak ukur teori. Dengan menelusuri dan menjajaki tentang syarat sebuah teori, maka formulasi Laswell bukanlah sebuah teori melainkan hanya sebuah konsepsi yang menuntut beberapa unsure yang harus melekat dalam komunikasi.  Fungsi Menerangkan Dimana dalam proses komunikasi setidaknya terdapat unsur komunikator, pesan, kominikan, media dan efek. Formula Laswell menerangkan komponen-komponen penting dalam komunikasi. Namun demikian formula Laswell banyak mendapat kritikan karena terlalu menekankan pengaruh komunikator kepada komunikan. Sehingga mengabaikan unsure feedback (umpan balik) yang tidak di temukakan dalam formula Laswell ini. Namun demikian hal ini dapat dipahami karena pada masa itu, keberadaan media massa (radio) cenderung digunakan sebagai alat propaganda politik.  Fungsi Meramalkan (Memprediksikan) Berdasarkan formula laswell ini, dapat di ramalkan bahwa apabila salah satu unsur komunikasi atas tidak difungsikan, maka proses komunikasi tidak dapat berjalan secara interaktif.  Fungsi Menentukan Formula Laswell ini jelas jika fungsi menentukan tidak dapat, namaun jika fungsi menentukan yang dimaksud adalah bagaimana interaksi komunikasi yang efektif jika unsure-unsurenya ada yang tidak lengkap, maka proses komunikasi akan terhambat. Formula ini sangat mengandalkan peran komunikator untuk mempengaruhi komunikan dengan tindakan persuasive. Tetapi proses ini belum dimulai dari proses komunikasi dalam diri komunikator dan teori ini menunjukkan tidak adanya proses komunikasi tanpa medium yang sangat ampuh untuk menunjukkan keberhasilan proses komunikasi yang efektif.  Fungsi Menjelaskan Penjelasan yang sesuai dengan fakta secara sistematis di jelaskan oleh Laswell melalui semua unsur kominikasi yang terkait dengan kebutuhan (need) manusia atau masyarakat pada umumnya. Sayangnya Laswell tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai fungsi-fungsi yang ia kemukakan, sehingga tebuka kesempatan terhadap berbagai spekulasi dan penafsiran. Berdasarkan karakteristik dan ketentuan dalam sebuah teori, maka teori ini yang dapat diklarifikasi sebagai formulasi yang berupa deskripsi unsure-unsure yang harus ada dalam sebuah komunikasi. 2. S-O-R Theory Hovland, et al (1953) beranggapan bahwa proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Dalam mempelajari sikap yang baru ada tiga variabel penting yang menunjang proses belajar tersebut yaitu perhatian, pengertian dan penerimaan. Teori S-O-R merupakan singkatan dari Stimulus-Organism Response. Adapun istilah-istilah yang digunakan dalam model ini adalah : pertama Stimulus (S), kedua Organism (O) dan ketiga, Response (R). Stimulus adalah rangsangan atau dorongan, sehingga unsure stimulus dalam teori ini merupakan perangsang berupa messege (isi pernyataan). Organism adalah badan yang hidup, sudah berarti manusia atau dalam istilah komunikan. Sehingga unsure Organism dalam teori ini adalah receiver (penerima pesan). Sedangkan Response dimaksud sebagai reaksi, tanggapan, jawaban, pengaruh, efek atau akibat, jadi dalam teori ini unsure response adalah efek (pengaruh). Analisis Fungsi Teori S-O-R  Fungsi Menerangkan Sepintas Teori S-O-R memiliki fungsi menerangkan, namun maksud fungsi menerangkannya bukanlah parameter teori. Karena yang di gambarkan teori ini hanya sebatas unsure komunikasi dan konsekwensinya. Perlu diketahui bahwa model S-O-R diadopsi dari model stimuli-respons dalam pendekatan psikologi yang di kemukakan. Pengadopsian pendekatan psikologi dalam teori S-O-R ini dapat di pahami karena objek material dari psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama-sama manusia yang memiliki jiwa dengan komponen komponen seperti sikap, opini, prilaku, kognisi, efeksi, dan konasi.  Fungsi Menentukan Teori S-O-R telah tergambar sebuah asumsi bahwa setiap pesan yang di sampaikan oleh komunikator yang sesuai dengan kebutuhan komunikan harus dapat merubah sikap para komunikan. Prinsip umum pada teori stimulis respons dikatakan, bahwa efek adalah reaksi kusus yang di timbulkan dari rangsangan khusus. Secara psikologi sangat jelas bahwa stimulus atau pesan yang di sampaikan kepada komunikan mungkin di terima atau mungkin juga di tolak. Komunikasi akan berlangsung secara efektif bilamana adanya perhatian, pengertian, penerimaan oleh komunikan. Selanjutnya dari proses tersebut membuat komunikan paham, mengerti dan memahami isi pesan yang disampaikan. Sehingga melalui kemampuan komunikasi dalam mencerna serta mengolah stimulus akan terjadilah perubahan sikap. Proses komunikasi yang berkenaan dengan perubahan sikap adalah aspek how bukan what atau why. Jelasnya who to communication dalam hal ini how to change attitude, yakni bagaimana mengubah sikap komunikan. Dalam proses perubahan sikap tersebut, terlihat bahwa sikap seseorang akan dapat berubah bilamana stimulus yang menerpanya benar- benar kontiniu dan gencar.  Fungsi Menjelaskan Fungsi menjelaskan dalam teori ini tampak sederhana dan tidak pasti meskipun ada. Dimana teori ini menerangkan bahwa pesan yang disampaikan harus sesuai dengan kebutuhan manusia baik itu kebutuhan material maupun kebutuhan non material. Kebutuhan material adalah kebutuhan manusia terhadap sandang, pangan, papan dan kesehatan. Sedangkan kebutuhan non material adalah rasa aman, ingin di hargai, dan ini merupakan suatu realitas, ingin berbuat, aktualisasi diri dan rasa ingin diperhatikan (ini merupakan pendapat umum). Begitu juga halnya bila teori stimulus-response ini digunakan pada masyarakat luas, maka prinsip yang dipegang adalah pesan yang disiapkan, dibagikan dengan systematis dan secara luas pada waktu yang sama. Ditambah dengan kemampuan teknologi untuk membantu penyebarluasan dan distribusi pesan yang tidak memihak diharapkan dapat meningkatkan sambutan dan tanggapan masyarakat. Dalam prinsip ini semua komunikan memiliki kedudukan yang sama dalam hal menerima isi pernyataan yang disampaikan. Asumsi yang bakal terjadi dalam kotak dari pengolahan isi pernyataan yang disampaikan di atas adalah akan terjadi pengaruh dengan tingkat kemungkinan tetentu pada masyarakat. Penerapan teori S-O-R pada media massa pada mulanya dianggap mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa kepada komunikan, yang di ungkapkan dalam gambar sebuah jarum suntik. Isi pernyataan dalam media massa disuntikkan kedalam urat darah komunikan. Dan komunikan diyakini akan memberikan reaksi dengan cara sebagaimana telah di perkirakan sebelumnya (Soehoet, 2002 : 27). Berdasarkan analisis di atas maka secara jelas sudah tergambar bahwa pada dasarnya sebutan S-O-R sebagai teori tidaklah tepat , melainkan ia hanya dapat diklarifikasikan sebagai asumsi. Aplikasi S-O-R ini pun kurang begitu tepat untuk di jadikan sebagai kerangka teoritis penelitian komunikasi. 3. S-M-C-R Theory S-M-C-R merupakan singkatan dari Source, Messege, Channel dan Receiver (Wenburg dan Wilmot, 1973 : 49-50). Teori ini dikembangkan oleh David K Berlo pada tahun 1960 yang merupakan perluasan dari teori Laswell. Dikemukakan Berlo, sumber (source) adalah pihak yang menciptakan, pesan (messege) baik seseorang ataupun kelompok seperti bahasa atau isyarat, gagasan kedalam suatau kode simbolik, seperti bahasa dan penerima saluran adalah medium yang membawa pesan, dan penerima adalah orang yang menjadi sasaran. Proses komunikasi berlangsung dalam keadaan dinamik, berkelanjutan, berubah-ubah, on going tanpa starting point atau stopping point. Untuk menganalisis proses komunikasi, maka di lakukan pemenggalan dinamika proses. Salah satu penyederhanaan proses komunikasi dalam teori komunikasi diawali dari komunikator (source) yang menyampaikan pesan (messege) melalui saluran (channel) kepada komunikan (Wiryanto, 2000 :19) Istilah media pada rumusan S-M-C-R mengandung dua pengertian yaknimedia primer dan media skunder. Media sebagai saluran primer adalah lambing, misalnya bahasa, kial (gesture), gambar atau warna, yaitu lambing-lambang yang digunakan khusus dalam komunikasi tatap muka. Media skunder adalah media yang berwujud, baik media masa misalnya surat kabar, televise atau radio maupun media masa misalnya surat, telepon, atau poster (Affendy, 2000 : 256). Salah satu kelebihan pada model S-M-C-R adalah bahwa model ini tidak terbatas pada komunikasi public atau komunikasi massa, namun juga komunikasi antar pribadi dan berbagai bentuk komunikasi tertulis (Mulyana, 2001 : 150). Model theory ini melukiskan beberapa factor pribadi yang mempengaruhi proses komunikasi, ketrampilan komunikasi, pengetahuan, system social dan lingkungan budaya, sumber dan penerima. Sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh factor-faktor ketrampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, system social dan budaya. Pesan dikembangkan berdasarkan elemen, struktur, isi, perlakuan dan kode. Salurannya berhubungan dengan panca indra : melihat, mendengar, menyentuh, mencium dan merasa. Analisis Fungsi Teori S-M-C-R  Fungsi Menerangkan Meskipun teori ini menganggap komunikasi sebagai suatu proses, namun sebagai model Aristoteles, teori ini menyajikan komunikasi sebagai fenomena yang statis, dinamis dan terus berubah. Umpan yang diterima komunikator dari komunikan tidak dimasukkan dalam teori ini dan komunikasi nonverbal tidak dianggap penting dalam mempengaruhi orang lain.  Fungsi Menjelaskan Komunikator bisa menggunakan dua media yaitu primer dan skunder, adapun penerima dalam teori ini adalah orang (dalam komunikasi tatap muka) dan khalayak pembaca, pendengar atau penonton (dalam komunikasi massa). 4. The Matematical Theory The Mathematical Theory of Communication ini sangat berpengaruh dalam perkembangan model serta teori komunikasi selanjutnya. Disebut sebagai model matematika karena proses komunikasi yang terjadi pada teori ini seperti garis lurus atau linear. Teori ini didasarkan pada konsep statistic dalam komunikasi (Lubis, 1998 : 43). Teori ini sering juga disebut dengan model Shannon dan Weaver karena teori ini merupakan panduan gagasan Claude E.Shannon dan Warren Eaver yang muncul pada tahun 1949. Shannon adalah seorang insiyur pada Bell Telephone dan ia berkepentingan dengan penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Weaver mengembangkan konsep Shannon untuk menerapkannya pada semua bentuk komunikasi. Sejak saat itulah istilah komunikasi dipergunakan dalam pengertian yang amat luas yang mencakup semua produser dimana pikiran seseorang mempengaruhi pikiran orang lain (very broad sense to include all of procedures by which on mind may affect another) (Effendy, 2000 : 257). Ciri dari teori ini adalah menggambarkan suatu proses komunikasi yang linear atau satu arah. Elemen dasar dari model ini antara lain sumber informasi (source) dan pemancar (transmitter), alat penerima (receiver) dan tujuan (destination). Selain itu terdapat juga unsure sumber gangguan (noise source). Akibatnya pesan yang disampaikan oleh sumber informasi yang dituju tidak sebagaimana adanya akibat gangguan. Sehingga komunikasi bisa gagal karena pesan yang diterima tidak identik dengan pesan yang dikirim sebelumnya. (Soehoet, 2002 : 7). Analisis Fungsi Teori Matematik Shannon dan Weaver  Fungsi Menerangkan Dalam percakapan sumber informasi adalah benak (brain), pemancar adalah mekanisme suara yang menghasilkan isyarat, saluran adalah udara. Penerima melakukan kebalikan operasi yang dilaksanakan pemancar yaitu merekontruksi pesan dari isyarat. Tujuan adalah orang atau benda kepada siapa atau kepada apa pesan itu ditujukan.  Fungsi Menentukan Teori ini meruakan teori pertama yang menemukan sumber gangguan (noise) dalam proses komunikasi dan sangat berpengaruh dalam perkembangan model-model dan teori-teori selanjutnya. Dalam realitasnya teori Shannon dan Weaver ini memberikan sumbangan besar terhadap konsep messege yang dipengaruhi entropy dan redundancy serta keharusan dalam melakukan keseimbangan antara keduanya menuju efesiensi komunikasi melalui upaya pengurangan gangguan dalam proses komunikasi (Lubis, 1998 : 45).  Fungsi Meramalkan/Memprediksikan Kendati konsep Shannon dan Weaver ini dapat diterapkan dalam konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antara pribadi, komunikasi public atau komunikasi massa. Namun, sayangnya model ini juga memberikan gambaran yang parsial mengenai proses komunikasi. Selain itu komunikasi pada model ini dipandang sebagai fenomena statis dan satu arah. Juga tidak menjelaskan konsep umpan balik atau transaksi yang terjadi dalam penyediaan dan penyediaan balik. Konsep gangguan dalam saluran komunikasi menurut teori ini adalah setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan (Mulyana, 2001 : 138). Gangguan ini bisa merupakan interferensi statis atau suatu panggilan telepon, musik yang hangar bingar disebuah pesta atau sirene diluar rumah.  Fungsi Menjelaskan Gangguan suara atau sumber informasi merupakan suatu kefatalan dalam berkomunikasi. Sehingga perlu menetapkan redudansi yang mengurangi entropi relative pesan. Dengan menggunakan redudansi untuk mengatasi gangguan dalam saluran, jumlah informasi yang dapat di transmisikan tereduksi pada suatu saat tertentu. Suatu kesimpulan yang dapat diperoleh bahwa dengan penerapan fungsi-fungsi teori yang harus ada matematika teori. 5. Circular Theory Teori sirkular ini dikembangkan oleh Charles E.Osgood dan Wilbur Schramm, yang menitik beratkan pembahasan pada perilaku pelaku-pelaku utama dalam proses komunikasi (Efenndy, 2000). Osgood berpendapat bahwa technical communication model dari Shannon dan weaver dirancang untuk problem-problem. Adapun model Osgood dikembangkan atas dasar Theory of Meaning dan psychologuistic. Karena menurutnya setiap individu dalam komunikasi sekaligus berfungsi sebagai source dan sebagai destination. Sebagaimana halnya transmitter dan receiver mendecording pesan-pesan, dia juga sekaligus mengcode melalui sejumlah feedback secara mekanis. Model sirkuler ini ditandai dengan adanya unsure feedback, hal ini berarti proses komunikasi tidak berawal dari satu titik dan berakhir pada titik yang lain. Pada dasarnya proses komunikasi itu berbalik satu lingkaran penuh, dalam model Osgood, input diartikan sebagai beberapa bentuk dari energi fisik dan stimuli yang diberi sandi dalam bentuk yang dirobah oleh implus-implus sensoris. Receiver bekerja atas stimuli atau input melalui proses-proses. Osgood menyebutnya sebagai reception dan perception. Sedangkan transmitter dalam teminologi Osgood, membentuk motor organisasi dan rangkaian kegiatan. Messeg atau respons dengan demikian meliputi output sumber dan input destination, Output dihasilkan melalui encoding sementara input diperoleh melalui decoding. Dalam metode Osgood, destinatioan memiliki kedudukan yang sama dengan source. Dalam pemahaman Osgood, setiap individu dalam proses komunikasi dilihat sebagai suatu system komunikasi lengkap yang cocok dengan model Shannon dan Weaver. Osgood kemudian merekontruksi model Shannon sebagaimana yang disebutnya dengan istilah communication unit yang terdiri atas pengirim dan penerima pesan. Dalam hal ini Osgood memberi penekanan pada situasi social komunikasi dengan menerangkan pada beberapa model yang memadai dibutuhkan sekurang-kurangnya dua unit komunikasi., yaitu source uni ( speaker) dan unit destination ( hearer). Kedua system tersebut dihubungkan oleh system tunggal yang disebut sebagai messeg. Sehubungan dengan hal di atas, messeg sebagai bagian dari total input suatu source unit, serta sekaligus jyga menjadi bagian total input dari destination unit. Analisis Circular Theory  Fungsi Menerangkan Teori ini menerangkan bahwa setiap pesan yang disampaikan akan langsung dapat diterima oleh sikomunikan, teori ini sama dengan system pemasaran. Mempergunakan dimensi komunikasi ini dipergunakan agar mengetahui langkah- langkah dalam penggunaan teori ini, Menerangkan tentang jenis- jenis komunikasi yaitu kerumunan, audience, massa dan public. Menurut Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsure, sumber ( source), pesan ( messeg) dan sasaran ( destination). Sumber boleh jadi seorang individu ( berbicara, menulis, menggambar, memberi isyarat) atau suatu organisasi komunikasi ( seperti surat kabar, penerbit, stasiun televisi, atau studio film). Pesan dapat berbentuk tinta pada kertas, gelombang swara di udara, implus dalam arus listrik, lambaian tangan, bendera diudara, atau setiap tanda yang dapat di tafsirkan. Sasarannya mungkin individu yang mendengarkan. Menonton atau membaca, atau anggota suatu kelompok, seperti kelompok diskusi, khalayak pendengar ceramah, kumpulan penonton sepak bola atau anggota khalayak media massa.  Fungsi memprediksikan Dari fungsi ini, maka ada tiga hal yang di prediksikan oleh teori ini yaitu: menciptakan saling pengertian, menciptakan saling kerjasama, menciptakan saling mencari keuntungan. Menurut Schramm, meskipun dalam komunikasi lewat radio atau telpon enkoder dapat berupa mikrofon dan dekonder adalah earphone, dalam komunikasi manusia, sumber dan encoder adalah satu orang sedangkan decoder dan sasaran adalah orang lainnya. Dan sinyalnya adalah bahasa untuk menuntaskan suatu tindakan kounikasi ( communication act), suatu pesan harus disandi balik.  Fungsi Menentukan Yang ditentuka oleh teori ini adalah kalau kita sering menyampaikan pesan pada seseorang secara terus menerus, maka komunikasi atau pesan yang disampaikan pasti akan berhasil. Bila kedu lingkaran memiliki wilayah bersama yang besar, maka komunikasi mudah dilakukan. Semakin besar wilayah tersebut, semakin miriplah bidang pengalaman ( field of expererience) yang dimiliki kedua pihak yang berkomunikasi. Bila kedua lingkaran itu tidak bertemu – artinya tidak ada pengalaman bersama – maka komunikasi tidak mungkin berlangsung bila wilayah yang sempit itu kecil – artinya bila pengalaman sumber dan pengalaman sasaran sangat jauh berbeda- beda maka sangat sulit untuk menyampaikan makna dari seorang kepada orang lainnya.  Fungsi menjelaskan Penyampaian pesan secara tidak rutin atau terus menerus, maka tidak akan mudah diterima oleh komunikan. Akhirnya keefektifan komunikasi tidak dapat diperoleh. Menurut Schramm ( 1974 : 7-11 ), seperti ditunjukkan kepada model ketiga diatas, jelas bahwa setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai encoder dan decoder.I kita secara konstan menyandi balik tanda- tanda dari lingkaran kita, menafsirkan tanda- tand tersebut dan menyandi sebagai hasilnya. Tegasnya, dalam menerima dan menyampaikan pesan, maka yang dihasilkan penyandian balik ( penafsiran) yang dilakukan perlu dibuat sandi. Proses kembali dalam model di atas disebut umpan balik ( feedback), yang memainkan peran sangat penting dalam komunikasi, karna hal itu memberitahu kepada kita bagaimana pesan tersebut kita tafsirkan baik dalam bentuk kata- kata sebagai jawaban, anggukan kepala, gelengan kepala, kening kerut, menguap, wajah yang mengelos dan sebagainya. 6. Dance Hellical Theory Model ini merupakan penembnagan dari model sebelumnya yakni model sirkular Osgood dan Schramm, dalam ini Dance menganggap model Osgoog dan schramm mempunyai kekurangan. Dance mengarisbawahi sifat dinamik dari komunikasi. Heliks ( helix), yakni suatu bentuk melingkar yang semakin membesar menunjukkan perhatian pada suatu fakta bahwa proses komunikasi bergerak maju dan apa yang di komunikasikan kini akan mempengaruhi struktur dan isi komunikasi yang datang menyusul. Ketika membandingkan model linear dan sirkular, Dance mengatakan bahwa dewasa ini kebanyakan orang menganggap bahwa pendekatan sirkula adalah paling tepat dalam menjelaskan proses komunikasi denis McQuail dan Sven Windahl ( 1981, 15-16), berpendapat model dance bukan alat untuk analisis yang terpencil. Nilainya mengingatkan kita bahwa komunikasi bersifat dinamis. Manusia kalau berkomunikasi sifatnya aktif kreatif dan mampu mengumpulkan informasi sementara model- model lain menganggap individu-individu sebagai makhluk yang bersifat agak fasif. Proses komunikasi, seperti halnya semua proses social, terdiri dari unsur-unsur hubungan- hubungan, dan lingkungan-lingkungan yang terus menerus berubah. Heliks menggambarkan bagaimana aspek- aspek dari proses perubahan dari waktu ke waktu. Analisis Dance Hellical Theory  Fungsi menerangkan Teknik- teknik komunikasi pada teori ini harus di munculkan yaitu informatif, persuatif, partisipasif dan coersif.  Fungsi Menjelaskan Proses komunikasi bergerak maju dan apa yang di komunikasikan kini akan mempengaruhi struktur dan isi komunikasi yang datang menyusul. Proses komunikasi juga selalu berubah dari waktu ke waktu. Dari uraian di atas maka Hellical Dance, untuk sampai kepada tingkat teori belum namun juga tidak dikatagorikan sebagai asumsi ia sudah lebih dari itu. Maka Hellical Dance dapat diklasifikasikan sebagai dalil. 7. New Comb ABX Theory Pada model Newcomb ini komunikasi merupakan cara yang biasa dan efektif dimana orang-orang mengorientasikan dirinya terhadap lingkungan. (Severin dan Tankard, 1992) Newcomb mengemukakan anggapan ( asumtion), bahwa komunikasi menyelenggarakan fungsi pokok yang memungkinkan dua orang atau lebih meemlihara perhatian terus menerus terhadap satu sama lain dan terhadap objek- objek di lingkungan luar mereka. Dengan demikian komunikasi adalah Learned response to strain, reaksi yang dipelajari terhadap tekanan dan bahwa kita ingin memperoleh lebih banyak kegiatan komunikasi kegiatan komunikasi ( memberi, mencarai dan bertukar informasi) di dalam ketidak pastian dan ketidak seimbangan ( Soehoet, 2002). New Comb mengembangkan teori Heider menjadi hubungan antara dua atau lebih manusia. New Camb mengembangkan dalil (postulate) yakni pendapat yang dikemukankan sebagai kebenaran, Strain to symmetry merupakan tekanan menuju kesamaan titik. Sebagai akibatnya bidang persamaan pendapat akan meluas dan mengadakan komunikasi. Pendetakan Theodore New Camb (1953) terhadap komunikasi adalah pendekatan seorang pakar social berkaitan denganinteraksi manusia. Model ini mengingatkan kepada diagaram jaringan kelompok kerja yang dibuat para psikolog social dan merupakan awal formulasi konsistensi kognitif. Analisis New Comb ABX Theory  Fungsi Menerangkan Dalam bentuk yang paling sederhana dari kegiatan komunikasi, seseorang A menyampaikan informasi kepada orang lain B, mengenai sesuatu X. model tersebut menyatakanbahwa orientasio A (sikap) terhadap B dan E adalah saling bergantung dan ketiganya membentuk suatu system yang meliputi empat orientasi.  Fungsi Menentukan Ini dapat ditentukan dalam bentuk prakmentasi komunikasi secara sederhana, pertama, orientasi A terhadap X termasuk sikap baik terhadap X sebagai objek untuk didekati atau dihindarkan maupun terhadap cirri-ciri kognitif, kedua, orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang benar-benar saya (untuk tujuan menghindarkan istilah-isltilah yang membingungkan. New Camb menyebutkan atraksi yang positif dan negative terhadap A dan C sebagai orang-orang dengan sikap yang menyenangkan dan tidak menyenangkan terhadap X). Ketiga, orientasi B terhadap X, keempat, orientasi B terhadap A. Pada model New Camb ini komunikasi merupakan cara yang biasa dan efektif dimana orang-orang mengorientasikan dirinya terhadap lingungan.  Fungsi Menjelaskan Teori ini menyangkut kasus dua orang yang mempunyai sikap senang atau tidak senang terhadap masing-masing dan terhadap objek eksternal, maka akan timbul hubungan seimbang (ketika dua orang saling menyenangi dan juga menyenangi satu objek). Danjuga terjadi tak seimbang (kalau dua orang saling menyenangi, tetapi yang satu menyenangi objek dan yang lain tidak). Selanjutnya apabila terjadi keseimbangan, setiap peserta akan menghadap perubahan dan manakala terjadi ketidak seimbangan berbagai upaya akan dilakukan untuk memulihkan keseimbangan kognitif.  Fakta Meskipun dalam kerangka interprestasi komunikatif, namun yang pasti bahwa New Camb telah memberikan semacam system yang saling terkait yang dapat diamati dalam bentuk perspektif komunikasi. 8. Cocnitive Dissonance Theory Menurt Festinger, pemula dari teori disonanasi, Kognisi (individu menyakini atau bersikap terhadap dirinya atau objek-objek dalam lingkungan yang dihubungkan dengan tiga hal : 1). Mereka mungkin merasa cocok jika seseorang mengikuti orang lain, 2). Mereka tidak merasa cocok jika mereka bertentangan dengan orang lain, 3). Mereka mungkin tidak relevan terhadap satu sama lain jika mereka secara histologis tidak berhubungan. (Lubis, tt). Istilah disonasi kognitif dari teori yang ditampilkan oleh Leon Festinger ini berarti ketidaksesuaian atara kognitif sebagai aspek sikap dengan perilaku yang terjadi pada diri seseorang. Orang yang mengalami disonasi akan berupaya mencari dalih untuk mengurangi disonasinya itu. Fungsi teori ada dua, pertama, teori merupakan alat untuk mencapai suatu pengetahuan yang sistematis. Teori sangat penting dalam mempejelas pengetahuan sebagai dasar organisasi pemikiran. Kedua, teori membimbing penelitian. Dari teori dapat dijabarkan hipotesis baru, bila ada teori yang berlawanan, penelitian dapat menguji mana diantara teori itu yang benar. Analisis Cocnitive Dissonance Theory Teori disonansi didasarkan pada sebuah hipotesa : 1). Keadaan disonansi secara fsikologis tidak mengenakkan, yang akan memotifasi orang untuk mencoba mengurangi disonansi dan konsonan. 2). Jika disonansi dihadapi, dalam hal mengurangi, orang secara aktif akan menghindari situasi dan informasi yang besar kemungkinannya akan meningkatkan disonansi. Disonansi adalah hasil yang tidak dikehendasi yang memotifasi individu, pengatahun tentang prinsip pengurangan disonansi selanjutnya dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain dan mengontrol perilaku mereka (Lubis tt).  Fungsi Menjelaskan Menjelaskan artinya mempunyai langkah-langkah yang harus dilakukan didalam memakai the theory of cognitive dissonance apa fungsi dari teori ini. Tujuan utama ilmu adalah penjelasan gejala alam secara cermat sehingga kita dapat melakukan prediksi. Bila penjelasan ini telah diuji berkali-kali dan terbukti benar penjelasan ini disebut dengan teori (Rakhmat, 2001). Oleh sebab itu Kerlinger menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu adalah teori. Teori adalah himpunan konstruk (konsep), defenisi dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi diantara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.  Fungsi Meramal Sebuah teori dikatakan berfungsi apabila mampu meramalkan, artinya bisa mengidentifikasi masa lalu. Mampu menangkap aspirasi masa sekarang dan bisa mengambil tindakan terhadap hal-hal yang terjadi pada masa yang akan datang. Jelas bahwa yang menggunakan the theory of cognitive dissonance ini tidak banyak yang dapat memberikan solusi tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia sehubungan dengan kebutuhan. 9. The Bullet Theory Teori peluru (The Bullet Theory of Communication) merupakan konsep awal sebagai efek komunikasi massa. Dikalangan para teoritisi atau pakar komunikasi ditahun 1970-an dinamakan hydropodemik needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori jarum-jarum hipodermik. Teori ini pada awalnya ditampilkan sejak tahun 1950-an setelah peristiwa penyiran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika Serikat berjudul “The invasion from mars”. Sejak tahun 1960-an, banyak penelitian yang dilakukan pakar komunikasi yang ternyata tidak mendukung teori peluru. Kini timbul apa yang dinamakan limited effect model atau model affect terbatas, antara lain hasil penelitian Hovland, dia mengatakan bahwa pesan komunikasi efektif dalam menyebarkan informasi tetapi tidak akan mengubah perilaku. Analisis The Bullet Theory  Fungsi Menerangkan Analisis the bullet theory menerangkan bahwa komunikasi massa memiliki kekuatan yang besar. Media massa dapat melakukan segala-galanya, dan dapat mempengaruhi orang lain secara dahsyat. Teori ini menerangkan tentang komponen-komponen komunikasi yakni komunikator, pesan, media massa sebagai komponen-komponen yang perkasa serta mempengaruhi audience, sasaran atau komunikan. Komunikan dianggap secara pasif menerima pesan-pesan komunikasi. Bila kita menggunakan komunikator yang cepat, pesan yang baik, atau media yang benar maka komunikan dapat diarahkan sekehendak komunikator. The bullet theory of communication ini lebih memfokuskan isu atau pesan dalam kondisi tertentu saja guna mempengaruhi public, dari ini teori ini cendrung menerangkan kondisi yang tak menetu. Sehingga efek yang ditimbulkan dari penerima pesan khalayak menimbulkan berbagai penfsiran. Apakah penafsirannya positif ataupunnegatif, yang jelas teori peluru ini akan mempengaruhi khalayak ramai.  Fungsi Menentukan Pengaruh komunikasi dapat ditimbulkan pada masyarakat yang bersifat homogenitas. Teori ini bersifat linier dan dalam melakukan penelitian mempunyai langkah-langkah yang dapat ditempuh seperti berikut. Teori peluru memang disebut dengan hydropodermic needle theory atau barang kali, sangat tepat jika disebut dengan teori jarum. Pesan yang disampaikan lebih menusuk kesasaran, sehingga khalayak betul-betuk menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Teori ini sebelumnya termasuk penelitian teori yang linier (lurus), bukan sircular (putaran). Dengan demikian teori ini juga memberikan kemudahan terhadap khalayak untuk menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator.  Fungsi Menjelaskan Teori ini bersifat linier dan dalam melakukanpenelitian mempunyai langkah-langkah yang dapat ditempuh seperti berikut. Bahwa teori ini pernah memberikan manfaat tentang besarnya efek pesan dari mediua massa terhadap uaidencenya. Contohnya siaran drama radio CBS yang menyiarkan drama imajiner “serbuan dari mars” pada tanggal 30 Oktober 1938. Kemudian penelitian tentang efek propaganda yang pernah dilakukan pada perang dunia pertama seperti efek propaganda yang dilakukan oleh Hitler, Musolini dan Lenin. 10. Four Theories of The Press Tiga orang cendikiawan Amerika, masing-masing Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm pada tahun 1956 menerbitkan sebuah buku dengan judul “Four Theories The Press”. Buku tersebut mengupas empat buah system pers yang berlaku diberbagai Negara di dunia, yaitu masing-masing authoritarian theory, libertarian theory, soviet communist theory dan social responcibility theory. Pada mulanya empat teori ini memang teori pers, namun kemudian seirama dengan perkembangan media massa yang meliputi teori media massa. Kini menjadi pengertian pers dalam arti luas yang kalau dikaitkan dengan kegiatan tidak hanya jurnalistik cetak, tapi juga jurnalistik elektronik (Effendy, 1993). Authoritarian Theory Teori otoriter yang disebut pula system otoriter berkaitan erat dengan system pengawasan terhadap media massa yang daya pengaruhnya dinilai amat kuat, sehingga pers dijuluki the fourth estate (kekuasaan keempat) dan radio siaran dijuluki the fifth estate (kekuasaan kelima) setelah lembaga legeslatif, eksekutif dan yudikatif, masing-masing diakui sebagai kekuatan pertama, kedua dan ketiga. Menurut Fred S. Siebert teori otoriter menyatakan bahwa hubungan antara media massa dengan masyarakat ditentukan oleh asumsi-asumsi filsafati yang mendasar tentang manusia dan Negara. Dalam hal ini mencakup sifat manusia, sifat masyarakat, hubungan antara manusia dengan Negara dan masalah filsafati yang mendasar, sifat pengetahuan dan sifat kebenaran. Liberitarian Theory Sebagaimana teori otoriter, Fred S. Seibert menegaskan bahwa untuk memahami prinsip-prinsip pers dibawah pemerintahan demokratik, seseorang harus memahami filsafat dasar dari liberalisme yang dikembangkan pada abad 17 dan 18. Jawaban terhadap pertanyaan mengenai sifat manusia, sifat masyarakat dan hubungan manusia dengannya, serta sifat pengetahuan dan kebenaran merupakan prinsip-prinsip filsafat liberal seperti halnya orientalisme. Menurut paham liberalisme, manusia adalah hewan berbudi pekerti dan merupakan tujuan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang adalah tujuan masyarakat dan manusia sebagai organisme berpikir mampu mengorganisasikan dunia sekelilingnya dan mampu membuat keputusan-keputusan untuk memajukan kepentingannya. Perbedaan manusia dengan hewan adalah kemampuannya dalam berfikir, mengingat, memanfaatkan pengalaman dan mengambil kesimpulan. Perjuangan untuk mengakui prinsip-prinsip liberal yang mempengaruhi pers mencapai puncaknya dengan diformulasikan dan diterimanya Bill of Tights yang mencakup peraturan-peraturan yang menerapkan kebebasan pers. Dari sejumlah butir yang tercakup oleh Bill of Tights itu hanya satu butir yang diterima tanpa interprestasi, yaitu bahwa kebebasan pers tidak mutlak melainkan dapat dikenalkan pematasan bagaimana yang dikenalkan kepada pers. Fungsi pers menurut teori liberal dapat dirumuskan sebagai berikut, pertama mengabdi pada system politik dengan menyajikan informasi, diskusi dan debat mengenai peristiwa umum. Kedua,menyebarkan penerangan kepada khalayak agar mampu berpemerintahan sendiri. Ketiga, mengawal hak-hak asasi pribadi dengan mengabdi kepadanya sebagai penjaga dalam menghadapi pemerintahan. Keempat, mengabdi kepada system ekonomi, terutama dengan jalan mempersatukan para pembeli dan penjual barang dan jasa melalui media periklanan. Kelima, menyajikan hiburan, Keenam, mengusahakan dana bagi kebutuhan sendiri sehingga bebas dari tekanan pihak yang berkepentingan. Soviet Communist Theory Teori ini dikupas oleh Wilbur Schramm yang dilatar belakangi oleh situasi politik yang terjadi pada masa Uni Soviet yang sangat berpengaruh terhadap system pers dan media massa. Schramm dalam kupas mengenai teori ini mencoba menyulusuri pemikiran Karl Marx melalui pertumbuhan dijaman Lenin dan Stelin. Schramm mengtakan bahwa sumbangan yang terbesar dari Karl Marx adalah penjungkirbalikan dialektika Hegel. Jadi Marx membuat dialektika realistis kebalikan dari idealistik. Analisis Four Theories of The Press Teori ini memprediksikan bahwa dari system pemerintahan maka lahirlah ilmu komunikasi politik. Menjelaskan kepada masyarakat apa hak dan kewajibannya melakukan pendidikan, agar timbulnya kesadaran,motivasi dan selalu mencari. Yang ditentukan oleh teori ini adalah komunikasi politik menentukan system pemerintahan. Proses komunikasi dapat dilakukan dengan komunikasi sambung rasa (pendidikan), komunikasi kelompok (motivasi) dan melalui forum media (mencari). Secara jelas dapat disimpulkan four theories of the press merupakan perkembangan system pers dalam sebuah Negara, maka dengan demikian four theories of the press ini system bukan teori. 11. Social Responsibility Theory Social responsibility theory yang dibahas dalam buku “four theoris of the press” oleh Theodore Peterson dinyatakan sebagai pergeseran dari teori liberal. Dari dasar teori ini adalah bahwa kebebasan dan kewajiban berlangsung secara beriringan. Pers yang ikut menikmati kedudukan dalam pemerintahan yang demokratis, berkewajiban untuk bertangung jawab kepada masyarakat dalam menjalankan fungsi-fungsinya secara hakiki. Berkembangnya Teori Tanggung Jawab Social ini adalah sebagai akibat dari kriti-kritik yang tajam dan gencar terhadap kegiatan pers terutama pada abad 20. Sebagai tanggapan kritik yang dianggap berarti bagi kehidupan bernegara, masayrakat dan per situ sendiri, maka dibentuklah commission of freedom of the press. Komisi kemerdekaan ini telah merumuskanlima persyaratan pers yang meganut analisis Theodore Peterson, yaitu : Pertama, memberikan peristiwa-peristiwa yang benar, lengkap dan berpekerti dalam konteks yang mengandung makna. Kedua, memberi pelayanan sebagai forum untuk saling tukar komentar dankritik. Ketiga memproyeksikan gambaran yang mewakili kelompok inti dalam masyarakat. Keempat, bertanggung jawab atas penyajian disertai penjelasan mengenai tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Kelima, mengupayakan akses sepenuhnya pada pertistiwa sehari-hari. Analisis Social Responsibility Theory  Fungsi Menerangkan Teori ini menerangkan tentang etika komunikasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh komunikator dalam melakukan komunikasi yaitu : Pertama, etika, dapat dibagi pada tiga kelompok, masing-masing norma (ini termasuk dalam komunikasi antar budaya), hokum yang ada dan pergaulan masyarakat (belajar masyarakat internasional). Kedua, etos (semangat) kerja, Ketiga, budaya kerjasama yaitu : komunikasi memiliki rasa tanggung jawab terhadap komunikasi yang dilakukan.  Fungsi Menentukan Komunikator harus bertanggung jawab terhadap komunikan dan melakukan proses komunikasi.  Fungsi Menjelaskan Komunikator akan sulit melakukan komunikasi jika tidak memperhatikan kehidupan social masyarakat setempat. 12. Diffusion of Innovations Theory Difusi inovasi adalah suatu tipe khusus dari komunikasi, difusi dan inovasi banyak digunakan dalam komunikasi pembangunan terutama dinegara-negara berkembang termasuk Indonesia. Analisis Diffision of Innovations Theory  Fungsi Menerangkan. a. Difusi Difusi pada dasarnya sebuah upaya mengkomunikasi sejumlah gagasan baru yang bersifat penyuluhan yang inklud dalam sebuah proses komunikasi. Sebagaimana halnya Rogers mendefenisikan difusi adalah proses penyebaran atau perembesan sesuatu (kebudayaan, teknologi, ide) yang baru dari satu pihak kepihak lainnya. Unsure-unsur dalam difusi menurut Rogers adalah 1). Inovasi, 2). Dikomunikasi melalui saluran tertentu, 3). Dalam jangka waktu tertentu, 4). Anggota suatu system social. b. Inovasi Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh pengadopsi. Pengadopsi (Adaptor) bisa saja individu, kelompok ataupun organisasi. Maka dapat disimpulkan bahwa difusi dan inovasi tersebut dapat menerangkan realitas yang terjadi di masyarakat. Dan difusi inovasi itu berperan untuk melihat bahwa sekarang ini masih diperlukan pembaharuan dimasyarakat.  Fungsi Menjelaskan Innovation decision process (proses diterima atau ditolaknya sebuah inovasi) adalah proses mental dimana seseorang berlalu dari pengetahuan pertama mengenai suatu inovasi ke pembentukan sikap terhadap inovasi. Ada lima langkah yang dikonseptualisasikan dalam proses difusi dan inovasi, yaitu : a. Knowledge (pengetahuan) b. Persuasion (persuasi) c. Decision (Keputusan) d. Implementation (Pelaksanaan) e. Comfirmation (peneguhan) Innovativeness adalah derajat dimana seseorang relative lebih dini dalam mengadopsi ide-ide baru ketimbang anggota-anggota dalam suatu system social. Pengadopsi tersebut dikategorikan sebagai berikut : a. Innovators (innovator) b. Early adopter (pengadopsi dini) c. Early majority (manyoritas dini) d. Late majority (mayoritas terlambat) e. Laggard (orang belakangan)  Fungsi Meramalkan Difusi inovasi ini tidak dapat meramalkan, ini bisa dilihat dari langkah persuasi dan keputusan dimana seseorang mencari informasi tentang penilaian inovasi untuk mengurangi ketidakpastian mengenai hasil yang diharapkan dari inovasi itu. Penutup Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun ilmu komunikasi dalam prosesnya yang panjang telah banyak melahirkan berbagai macam teori, namun yangmemiliki konsepsi dan aplikasi yang refresentatif teori hanya beberapa teori saja. Mekipun demikiandalam perkembangannya komunikasi sebagai sebuah ilmu yang semula orangtidak banyak singgah apalagi untuk menetap tinggal dalam ranah komunikasi menuju perspektif dan pencarian landasan keilmuan secara sempurna. Tapi adanya penerapan penemuan-penemuan teori ini cukup menjadi alas an bagi kita bahwa betapa komunikasi sebenarnya sangat memiliki daya ilmiah yang otoritatif dalam khazanah perkembangan keilmuannya. Daftar Pustaka Effendi, Onong Uchjana, ilmu Komuniksi : Teori dan Praktek, 1994, Bandung : Remaja Rosdakarya. Effendy,Onong Uchjana. 1992, Spektrum Komunikasi, Bandung : Mandar Maju. Fisher, B.Aubrey, Teori-Teori Komunikasi, 1978. Bandung : Remaja Rosdakarya. Fred, Siebert S. 1986, Four Theories of The Press, Terjemahan Empat Teori Pers, Jakarta : Intermasa.

Studi Islam

STUDI ISLAM
Oleh : Bahtiar

  1. A. Pendahuluan

óOÏ%r’sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. {QS. Ar-Ruum : 30}.

Ayat diatas menjelaskan yang dimaksud dengan fitrah Allah yaitu segala ciptaan Allah. Manusia diciptakan oleh Allah memiliki naluri beragama yaitu agama tauhid dalam hal ini agama Islam. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar, mereka tidak beragama tauhid lantara pengaruh lingkungan[1].

Selaras dengan naluri beragama yang telah dianugrahi oleh Allah, maka manusia memiliki kewajiban untuk mengkaji dan mempelajari setiap bentuk ilmu pendidikan yang terkandung dalam Quran.

Islam sebagai agama tauhid yang sempurna bagi muslim sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Quran. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahui secara rinci tentang islam. Mulai dari islam sebagai agama tauhid, juga islam sebagai sumber (sources) pemikiran (thoughts) pengamalan (practices), budaya dan peradaban (culture dan civilization).

Islam itu sendiri sejak masa Rasulullah, Saw hingga masa sahabat dan sekarang ini sudah banyak memberikan perubahan bagi kehidupan manusia dan peradaban dunia. Tentunya kesempurnaan pencapaian itu memerlukan berbagai metode dan pendekatan khusus, hal itu terkandung dalam studi islam yang bersumber dari Quran dan Hadist Rasulullah.

Karenanya sebagai kajian awal pada semester ganjil (I) program pasca sarjana IAIN SU ini, penulis mencoba mengupas pendekatan dalam kajian islam sesuai tuntutan silabus

Semoga kehadiran makalah ini memberikan pencerahan baru terutama bagi penulis sendiri dan bagi pembaca lainnya, khususnya rekan-rekan mahasiswa program pasca sarjana IAIN Sumatera Utara semester I jurusan KOMI.

  1. B. Pengertian Islam, Muslim dan Islamis

Sebelumnya penulis menguraikan sedikit pengertian islam sebagai landasan awal dalam kajian islam. Perkataan Islam berasal dari bahasa Arab yaitu aslama, yuslimu, islaman yang berarti tunduk, patuh, sejahtera serta damai. Agama Islam adalah agama yang mentauhidkan Allah sejak nabi Adam. as hingga nabi terakhir Muhammad SAW. Namun yang membedakan antara nabi yang satu dengan lainnya hanyalah segi syariat semata.

Umat Islam percaya bahwa semua makhluk yang berada di alam ciptaan Allah ini selalu patuh dan tunduk pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Semua makhluk tersebut, juga para malaikat dan Jin mengakui agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah, kecuali Iblis dan sebahagian dari Jin yang engkar kepada perintah Allah swt.

Umat Islam juga percaya Nabi Muhammad saw, diutuskan oleh Allah untuk menyempurnakan syariat yang terdahulu dengan turunnya Quran sebagai panduan dan petunjuk.

Dalam Islam ada tiga konsep yang penting yaitu Iman, amal dan Ihsan, secara ringkasnya penulis menjelaskan, Iman adalah berkaitan dengan kepercayaan (aqidah) seorang Muslim. Kepercayaan ini bersandarkan pada enam perkara yang disebut Rukun Iman. Sementara amal terimplementasi dalam Rukun Islam sebagai tanggung jawab seseorang muslim yang wajib dilakukan, sedangkan Ihsan berkaitan dengan adab seorang Muslim dalam kehidupan yang dijalaninya sehari-hari.

Sementara muslim itu sendiri merupakan sosok hamba atau abdi yang secara sadar telah menghambakankan dirinya kepada khaliq dengan pengakuan ketauhidan-Nya dalam agama islam yang dibawah oleh Rasulullah. Tentunya setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh seorang muslim selalu mengacu kepada kaidah-kaidah yang terkandung dalam ajaran islam yang diterimanya dari hasil studi islam yang telah dijalani.

Namun demikian, kenyataan dalam kehidupan sehari-hari ada dua hal yang berbeda dalam memaknai muslim. Sebagaimana kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia yang memeluk atau beragama islam dikatakan muslim. Pun ada juga yang menilai muslim adalah sosok manusia beragama islam yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya (Amar ma’ruf nahi mungkar).

Sedangkan islamis adalah suatu kebiasaan seorang muslim yang tercermin dalam perbuatannya sehari-sehari. Atau dengan kata lain islamis adalah suatu sifat ajaran islam yang ada dalam diri seorang muslim dan pada akhirnya memberikan pengaruh atau warna pada lingkungannya.

  1. C. Berbagai Pendekatan Dalam Memahami Islam

Dewasa ini kehadiran agama (islam) semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Karena selama ini agama hanya dijadikan sebatas lambing kesalehan seseorang atau sekedar isi dalam penyampaian khutbah. Padahal sesungguhnya secara konsepsional islam menunjukan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan dan menyelesaikan berbagai persoalan menyangkut kehidupan duniawi dan akhrirat.

Tentunya dibutuhkan berbagai metode dan pendekatan khusus dalam memahami suatu persoalan secara pandangan agama untuk penuntasannya. Metode dan pendekatan itu juga dihasilkan dari kajian-kajian islam yang dilakukan secara berkesinambungan oleh kalangan tokoh dan ulama sesuai dengan konteks jamannya.

Apalagi selaku muslim yang meyakini ketauhidan Allah dalam islam, maka kita juga yakin bahwa islam merupakan sumber dari segala pengetahuan yang didalamnya memberikan berbagai pencerahan. Sungguh tidak ada permasalahan dalam kehidupan ini yang terlewatkan dalam pembahasan agama, semuanya sudah dijelaskan dalam kitab suci umat islam yaitu Quran.

Hal tersebut perlu diyakini karena melalui pendekatan kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, tidak mustahil agama menjadi sulit dipahami oleh masyarakat.

Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, histories, kebudayaan dan peradaban. Dalam hubungan ini Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya, karenanya tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penilitian social, penelitian legalistic atau penelitian folisofis.[2]

Sebagai sumber Islam adalah agama yang sempurna dengan Quran sebagai petujuk (pegangan) yang didalamnya terkandung berbagai sumber ilmu pengetahuan. Dengan beragam pengetahuan tersebut, maka manusia dapat mengetahui dan menjalankan kehidupan diatas bumi dengan baik dan sempurna.

Dengan Quran sebagai pedoman, islam memberikan petunjuk tentang aqidah kepada dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan tersimpul dalam keimanan dalam keesaan tuhan. Juga sebagai petunjuk mengenai ahklak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalamkehidupan, baik secara individual maupun kolektif.

Serta petunjuk mengenai syariat dan hokum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hokum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan tuhan dan sesamanya.[3]

Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Isra 17:9

¨bÎ) #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# “ωöku‰ ÓÉL¯=Ï9 š†Ïf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x. ÇÒÈ

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.[4]

  1. Pendekatan Teologis Normatif

Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan dan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.

Dari pemikiran tersebut dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk formal atau simbol-simbol keagamaan yang mengklaim dirinya paling benar dan agama yang lain salah.

Dalam perkembangan studi islam, pada umumya masyarakat berharap keberadaan lembaga-lembaga pendidikan islam memenuhi dua harapan. Pertama adanya kemajuan dalam bidang keilmuan baik dalam pengajaran, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan agama islam serta pengabdian masyarakat.

Kedua harapan yang terkait erat dengan bidang keagamaan, harapan ini memiliki dasar pemikiran, motivasi dan tujuan yang berbeda dengan harapan yang pertama. Studi keilmuan (historisitas) menggadaikan perlunya pendekatan kritis, analitis, empiris dan histories. Sedangkan studi keagamaan (normatifitas) lebih menuntut untuk menonjolkan sikap pemihakan, idealitas, norma, bahkan sering kali diwarnai pembelaan yang bercorak apologis.

Secara sederhana islam dilihat dari segi normatif adalah islam yang merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan padanya paradigma ilmu pengetahuan yaitu paradigma analisis, kritis, metodelogis, histories dan empiris. Sedangkan jika dilihat dari segi histories (non-normatif) islam yang dimaksud adalah ilam yang praktekkan oleh manusia serta tumbuh dan berklembang dalam sejarah kehidupan manusia.

  1. Pendekatan Antropologis

Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud pratik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.

Antropologis dalamkaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif.[5] Dari sini timbul kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Dapat dijelaskan penelitian antropilogis yang induktif yaitu turun kelapangan dengan membebaskan diri dari teori-teori formal.

  1. Pendekatan Sosiologis

Sosiologis adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelediki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan hidup.

Dengan pendekatan ini dapat dimengerti dengan mudah, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara professional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi.

Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami islam dapat dipahami karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah social. Besarnya perhatian agama terhadap masalah social mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu social sebagai alat untuk memahami agamanya.

  1. Pendekatan Filosofis

Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang artinya cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman manusia. Selaras dengan defenisinya, maka berfikir secara filosofis tersebut dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama.

Melalui pendekatan filosofis ini seseorang tidak akan akan terjebak pada pengamalam agama yang bersifat formalistic, yaikni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apapun. Yang mereka dapatkan dari pengamalan agama tersebut hanyalah pengakuan formalistic, misalnya sudah haji, dan berhenti sampai disitu.

Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memelrlukan pendekatan filosofis dalam memahami dalam ajaran agamanya. Namun pendekatan seperti ini masih belum diterima secara merata terutama oleh kaum tradisionalis formalistic yang cendrung memahami agama terbatas pada ketepatan melaksanakan aturan-aturan formalistic dari pengamalan agama.

  1. Pendekatan Historis

Sejarah atau histories adalah sesuatu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsure, tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari pertistiwa tersebut. Melalui pendekatan sejarah, seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Pendekatan kesejarahan ini sangat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan dengan kondisi social kemasyarakatan. Dalam hubungan ini Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam menurut pendekatan sejarah.[6]

  1. Pendekatan Kebudayaan

Sultan Takdir Alisjahbana mengatakan, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang komplek yang terjadi dari unsure-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hokum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.[7]

Dengan demikian dapat didefenisikan kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimiliki. Dimana dalam kebudayaan itu sendiri terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat, dan lainnya. Kesemua elemen itu digunakan sebagai kerangka acuan atau blue print oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya.

Karenanya, pendekatan kebudayaan dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang mengejala (berefek) dimasyarakat.

  1. D. Metode Studi Islam

Metode dapat diartikan sebagai cara, yaitu cara yang dapat digunakan dalam memahami islam. Ali Syari’ati menawarkan metode memahami islam itu dengan menggunakan metode perbandingan (komparasi) yaitu membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain atau menggunakan metode aliran yaitu mempelajari islam sebagai aliaran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia, perseorangan maupun masyarakat.[8]

Selanjutnya Nasruddin Razak mengajukan empat cara dalam mengemukakan metode memahami islam yaitu pertama islam harus dipeajari dari sumber aslinya yaitu Quran dan As-Sunnah Rasulullah. Kedua islam harus dipelajari secara secara integral, tidak secara parsial yaitu dipelajari secara menyeluruh sebagai kesatuan yang bulat. Ketiga islam harus dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh ulama besar, Zuama (pembesar agama islam) karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman islam yang baik dan perpaduan itu yang berasal dari Quran dan As-Sunnah. Keempat islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normative teologis yang ada dalam Quran, baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan histories, empiris dan sosiologis yang ada dimasyarakat.[9]

Metodelogi sering diartikan sebagai cabang logika yang merumuskan kesimpulan logis dan membuat konsep dan terjadi. Sebetulnya penerapan prinsip dan proses logika terhadap objektif khusus berbagai ilmu pengetahuan dapat diterapkan secara memuaskan dengan kombinasi deduksi dan induksi. Dengan demikian metodelogi adalah suatu istilah umum yang diwujudkan dalam metode khusus setiap ilmu pengetahuan.

  1. E. Makna dan Ruang Lingkup Studi Islam

Perkembangan dan pengkajian studi islam dalam lingkungan kelembagaan pendidikan islam masih sangat dibutuhkan dalam kemajuan sains, teknologi dan peradaban manusia dan signifikasinya dibutuhkan dalam keanekaragaman, penghayatan, praxistoris, heterogenitas dan kekayaan cultural masyarakat muslim diseluruh dunia.

Disamping itu pentingnya mempelajari studi islam adalah bertujuan :

  1. Menekuni kajian budaya dan peradaban islam dari jaman nabi Muhammad hingga masa kontemporer.
  2. Memahami ajaran islam dan masyarakat muslim diseluruh dunia
  3. Mempelajari berbagai usaha muslim di seluruh dunia dalam konteks memperkaya khasanah keilmuan dalam aspek ilmu komunikasi.

Adanya kecendrungan dan keinginan untuk memahami lebih baik tentang pemikiran islam dalam masyarakat muslim diseluruh dunia, perlua adanya pengembangan keilmuan untuk memperluas materi studi islam dalam banyak bidang.

Adapaun cakupan bidang kajian dalam studi islam adalah :

  1. Islam sebagai sasaran studi dan penelitian
  2. Pentingnya studi islam, asal usul dan pertumbuhan studi islam
  3. Kedudukan penelitian agama diantara penelitian budaya, social dan keagamaan dan kealaman.
  4. Agama islam sebagai wahyu, gejala budaya dan interaksi social.
  5. Pembidangan ilmu agama islam dan berbagai pendekatannya.
  6. Studi islam dengan pendekatan sejarah : Quran, sirah dan hadist, klasik, tengah dan modern.
  7. Studi islam dengan pendekatan filologi
  8. Studi islam dengan pendekatan arkeologi
  9. Studi islam dengan pendekatan antropologi, sosiologi
  10. Studi pemikiran islam : Hukum : Filsafat, kalam dan tasauf
  11. Studi Islam pranata-pranata islam : shalat, zakat, puasa, haji waris.
  1. F. Penutup

Disadari bahwa islam (dalam arti ajaran Quran dan As-sunnah) itu lebih banyak berbicara masalah-masalah prinsip-prinsip dan landasan pengembangan pemikiran pendidikan. Penjabaran lebih lanjut dalam bentuk system pengembangan dalam ruang lingkup studi islam yang lebih luas, bersifat terbuka, selaras dengan sifat dinamika social yang senantiasa bergerak dan mengalami perubahan untuk menuju kesempurnaan, walaupun esensi atau nilai-nilai hakiki ajaran yang dituju pada prinsipnya sama atau bersifat tetap.


[1] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Revisi (Surabaya : UD Mekar 2000) h.645

[2] H.Abuddin Nata Metodelogi Studi Islam (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2008), h.28

[3] Hery Noer Aly Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : PT Logos Wacana Ilmu, 1999) h.33

[4] Ibid, h.32

[5] H.Abuddin Nata Metodelogi Studi Islam (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2008), h.35

[6] H.Abuddin Nata Metodelogi Studi Islam (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2008), h.47

[7] Ibid. h.49

[8] Ali Syari’ati Tentang Sosiologi Islam (terj) Saifullah Mahyuddin, Dari Judul Asli On The Sociology of ilsam (Yogyakarta : Ananda, 1982) h.72.

[9] A.Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1977) h.48

STUDI HUKUM ISLAM

STUDI HUKUM ISLAM

Oleh: Muhammad Saleh

A.        PENDAHULUAN

Berbicara mengenai hukum secara sederhana segera terlintas dibenak kita peraturan-peraturan atau seperangkat norma yang mengatur tingkah laku manusia dalam suatu masyarakat, baik peraturan maupun norma itu berupa kenyataan yang tumbuh dan berkembang  di dalam masyarakat atau peraturan yang sengaja dibuat oleh penguasa dengan bentuk dan cara tertentu. Bentuknya mungkin berupa hukum tidak tertulis maupun hukum yang  tertulis dalam peraturan perundang-undangan seperti hukum Barat yang dipakai di Indonesia. Konsepsi hukum perundang-undangan Barat yang diatur oleh hukum hanya semata-mata hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan benda dalam masyarakat .

Ketika mengkaji tentang Islam, aspek yang ada didalamnya tidak lepas membicarakan tentang hukum (peraturan) yang ada di dalam Islam itu sendiri, aspek hukum di dalam Islam biasa disebut dengan hukum Islam yang punya konsep dasar dan hukumnya ditetapkan oleh Allah, tidak hanya mengatur tentang  hubungan manusia dengan manusia lain dan benda dalam masyarakat, tetapi juga hubungan-hubungan lainnya baik itu hubungan dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat serta dengan alam sekitar.

Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari Al-qur’an sdan menjadi bagian dari agama Islam, sebagai sistem hukum ia mempunyai beberapa istilah kunci yang perlu dijelaskan lebih dulu kadang kala membingungkan kalau tidak tahu persis maknanya, dalam kajian makalah studi hukum Islam ini penulis akan mengawali  pembahasan dari istilah-istilah kunci dalan hukum Islam (Syari’ah, Fiqh, Ushul al-Fiqh, Mazhab, Fatwa, Qaul), Islam sebagai norma hukum dan etika, mazhab utama dan pendekatan hukum yang mereka pakai terhadap kajian hukum Islam sampai kepada disiplin-disiplin utama studi hukum dan cabang cabangnya serta yang terakhir mengenai tokoh dan karya terpenting dalam perkembangan mutakhir kajian-kajian hukum Islam. Semoga bermanfaat.

B.        PENGERTIAN ISTILAH KUNCI

1. Syari’ah

secara  harfiah  kata syari’ah berasal dari kata syara’a – yasy’rau – syariatan yang berarti jalan keluar tempat air untuk minum[1]. Pengertian lainya yang dikemukakan dalam kitab Buhutsu fi Fiqhi ala Mazhabi li Imam Syafi’i, secara bahasa Syari’ah adalah jalan lurus. Syariah dalam arti istilah adalah hukum-hukum dan aturan-aturan yang disampaikan Allah kepada hamba-hambanya [2] dengan demikian syariah dalam pengertian ini adalah wahyu Allah, baik dalam pengertian wahyu al-Matluww (Al-Qur’an), maupun al-Wahyu gair matluw (Sunnah).

Syariah dalam literatur hukum Islam ada tiga pengertian :

  1. Syari’ah dalam arti sebagai hukum yang dapat berubah sepanjang masa.
  2. Syari’ah dalam arti sebagai hukum Islam baik yang tidak dapat berubah sepanjang masa maupun yang dapat berubah.
  3. Syari’ah dalam pengertian hukum yang digali (berdasarkan atas apa yang disebut Istinbat ) dari Al–Qur’an dan Sunnah.[3]

2. Fiqh

Fiqh secara bahasa berarti fahm yang bermakna mengetahui sesuatu dan memahaminya dengan baik. Menurut pengertian isthilahnya Abu Hanifah memberikan pengertian (Ma’rifatu nafsi ma laha wa ma alaiha) mengetahui sesuatu padanya dan apa apa yang bersamanya yaitu mengetahui sesuatu  dengan dalil yang ada. Pengertian yang Abu Hanifah kemukakan ini umum yang mencakup keseluruh aspek seperti Aqidah dengan wajibnya beriman atau Akhlak dan juga Tasawuf.[4] Pengertian fiqh secara istilah yang paling terkenal adalah pengertian fiqh menurut Imam Syafi’i yaitu pengetahuan tentang syari’ah ; pengetahuan tentang hukum-hukum perbuatan mukallaf berdasarkan dalil yang terperinci.

Berdasarkan dengan perkembangan hukum Islam ke berbagai belahan Dunia, term fiqh berkembang hingga digunakan untuk nama-nama bagi sekelompok hukum-hukum yang bersipat praktis. Dalam peraturan perundang-undangan Islam dan sistem hukum Islam kata fiqh ini diartikan dengan hukum yang dibentuk berdasarkan syariah, yaitu hukum-hukum yang penggaliannya memerlukan renungan yang mendalam, pemahaman atau pengetahuan dan juga Ijtihad[5]. Dalam kajian studi Hukum Islam ini arti fiqh yang dimaksudkan adalah arti fiqh dalam pengertian yang diberikan oleh Imam Syafi’i yang lebih mengkhususkan artian fiqh kepada aturan-aturan mengenai perbuatan mukallaf.

3. Usul al-Fiqh

Usul Fiqh terdiri dari dua kata usul jamak dari asl yang berarti dasar atau sesuatu yang dengannya dapat dibina atau dibentuk sesuatu, dan kata fiqh yang berarti pemahaman yang mendalam. Menurut Istilah, Pengertian usul fiqh adalah ilmu tentang kaedah kaedah dan pembahasan yang mengantarkan kepada lahirnya hukum-hukum syariah yang bersifat amaliah yang diambil dari dalil-alil yang terperinci[6]. Dengan demikian usul al-fiqh adalah ilmu tyang digunakan untuk memperoleh pemahaman tentang maksud syariah. Dengan kata lain usul al-fiqh adalah sistem (metodologi) dari ilmu fiqh.

4. Mazhab

Pengertian mazhab secara bahasa berarti “tempat untuk pergi” yaitu jalan, sedangkan pengertian mazhab secara istilah adalah: pendapat seorang tokoh fiqh tentang hukum dalam masalah ijtihadiyah[7] Secara lebih lengkap mazhab adalah: faham atau aliran hukum dalam Islam yang terbentuk berdasarkan ijtihad seorang mujtahid dalam usahanya memahami dan menggali hukum-hukum dari sumber Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah[8].

5. Fatwa

Fatwa artinya petuah, nasehat, jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan hukum. Dalam istilah fiqh, fatwa berarti pendapat yang dikemukakan oleh seorang mujtahid atau faqih sebagai jawaban yang diajukan peminta fatwa dalam suatu kasus yang sifatnya tidak mengikat.

Pihak yang meminta fatwa bisa pribadi atau lembaga maupun kelompok masyarakat. Fatwa yang dikemukakan mujtahid tersebut tidak bersifat mengikat atau mesti diikuti oleh si peminta fatwa dan oleh karenanya fatwa ini tidak mempunyai daya ikat. Pihak yang memberi fatwa dalam istilah fiqh disebut dengan Mufti, sedangkan pihak yang meminta fatwa disebut mustafti[9].

6. Qaul

Kata Qaul secara etimologi adalah bentuk masdar dari kata kerja Qala-Yaqulu. Kata Qaul dapat bermakna kata yang tersusun lisan, baik sempurna maupun tidak.10kiranya secara simpel Qaul dapat diartikan sebagai ujaran, ucapan, perkataan. Dalam istilah fiqh kata Qaul dinisbatkan kepada imam atau pemimpin suatu mazhab atau ulama fiqh yaitu berupa perkataan maupun ucapan daripada imam fiqh tersebut. Istilah ini juga dikenal dalam fiqh Imam Syafi’i, yaitu Qaul Qadim dengan Jadid. Qaul Qadim adalah pendapat beliau ketika berada di Irak, sedangakan Qaul Jadid adalah pendapat beliau ketika berada di Mesir.11

C.        Islam Sebagai Norma, Hukum dan Etika

Islam sebagai agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui rasulnya merupakan Agama yang mencakup seluruh aspek hidup atau kehidupan manusia diantaranya sebagai sumber norma, hukum dan etika hidup manusia, norma dalam artian kata adalah kaidah yakni tolak ukur, patokan, pedoman yang dipergunakan untuk menilai tingkah laku atau perbuatan manusia dan benda12. Pengertian norma erat dengan pengertian hukum. Maka pembicaraan seputar Islam sebagai norma, hukum, dan etika tidak lepas kaitannya dengan sumber norma, hukum, etika dalam Islam itu sendiri.

Adapun sumber norma dan hukum dalam Islam yang pokok ada dua yaitu, Al-Qur’an dan As-Sunnah, disamping kedua pokok terdapat pula sumber tambahan yaitu, Al- Ijtihad.

Al-Qur’an

Al–Qur’an merupakan sumber azasi yang pertama norma dan hukum dalam Islam, ialah kitab kodifikasi firman Allah SWT kepada kepada umat manusia. Pada garis besarnya Al-Qur’an memuat Akidah, Syariah ( Ibadah dan Muamalah ), Akhlak, kisah-kisah lampau berita-berita yang akan datang serta berita-berita dan pengetahuan lainnya.

As-Sunnah

As-Sunnah (Sunnatun Rasul) sumber azasi yang kedua norma dan nilai dalam Islam, ialah segala ucapan, perbuatan dan sikap Muhammad SAW sebagai rasul Allah, yang berfungsi sebagai penafsir dan pelengkap bagi Al-Qur’an .

Al-Ijtihad

Al-Ijtihad, sumber tambahan norma, hukum nilai dan etika dalam Islam, ialah usaha sungguh-sungguh seseorang atau beberapa orang tertentu, yang memiliki syarat – syarat tertentu untuk memastikan kepastian hukum secara tegas dan positif yang tidak terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah13.

Secara garis besar berbicara tentang Islam sebagai norma hukum dan etika maka tidak lepas pula pembicaraan tersebut mengacu pada tiga hal pokok diatas yang mana ketiganya merupakan rujukan, tolak ukur dan panduan ummat Islam dalam kehidupan mereka dari hal yang terkecil sampai yang besar dalam mengarungi kehidupan ini. Ketiga bidang di atas baik itu norma, hukum dan etika yang dalam Al-Qur’an, etika disebut dengan akhlak. adapun konsep akhlak dalam Islam lebih luas cakupannya dari pada konsep etika yang biasa kita kenal selama ini semua ini tidak terlepas dari isi Al-Qur’an, As-Sunnah dan serta Ijtihad seperti yang telah diuraikan di atas.14

Lebih lanjut bisa dijelaskan bahwa apabila dilihat dari ilmu hukum, Syari’at merupakan norma hukum dasar yang ditetapkan Allah, yang wajib diikuti oleh orang Islam berdasarkan iman yang berkaitan dengan akhlak, baik dalam baik hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia dan benda dalam masyarakat. Norma norma hukum dasar ini dijelaskan dan dirinci lebih lanjut oleh Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Agama Islam meliputi juga akhlak, atau etika yang berarti perangai, sikap, tingkah laku watak,budi pekerti,yang berkenaan dengan sikap dan perbuatan manusia terhadap Tuhan dan sesama makhluk ciptaan tuhan.

Dalam pengertian modern hukum adalah aturan yang hanya dapat diberlakukan oleh otoritas politik, sementara para ulama Islam memahamkan hal ini sebagai : setiap tindak dan perilaku setiap manusia bahkan kegiatan nurani manusia sekalipun syaria’ah juga berkepentingan dengan niat, seperti ada pada pelaksanaan sholat, puasa, berzakat, sebagaimana pula pada pelaksanaan hukum keluarga dan pidana.

Di dalam Islam iman bukanlah doktrin teologi yang dogmatis, atau pula bukan keyakinan intelektual, atau pula bukan proposisi filosofis. Ia justruharus diwujudkan dalam suatu tindakan kegiatan sehari hari, yang meluap dari sikap bathin menjadisikap lahiri, dari skala pribadi memancar berskala masyarakat, dan dari moral ke hukum adalah syari’ah yang mewujudkan cita imani dan moral menjadi sasaran-sasaran bentuk-bentuk dan kode-kode yang gamblang terumuskan, layak, serta nyata, yang ada dalam jangkauan setiaporang dalam mewujudkannya. Inilah salah satu alasan pula bahwa ia merupakan salah satu karunia dan rahmat Allah SWT yang terbesar dan juga salah satu sarana untuk mencapai kemajuan kemanusiaan.15

Hanya manusialah yang bisa  dan wajib untuk mewujudkan cita iman dan moral ke dalam tindakan dan amalan. Sebagian orang telah berusaha memisahkan kedua hal tersebut, sedang sebagian lainnya telah terjerumus ke dalam perbincangan filsafat yang tiada akhir. Bahkan mutakhirnya tidak mampu lagi merumuskan apakah yang etis, bermoral, beretika, ataupun yang baik. Inilah sekilas penjelasan nahwa islam merupakan sumber norma hukum dan etika yang ketiganya harus tumbuh dan berkembang dalam bentuk tindakan  manusia.

D.        Mazhab Hukum Utama dan Pendekatan Mereka Terhadap Kajian Hukum

Al-Mazahib (aliran-aliran)dan arti secara sastranya adalah “jalan untuk pergi”. Dalam karya-karya tentang agama Islam, istilah mazahab erat kaitannya dengan hukum Islam adapun mazhab hukum yang terkenal sampai saat ini ada 4 mazhab yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali. Ini adalah hanya beberapa mazhab yang ada dalam Islam dan mereka bukanlah hukum sunni yang refresentatif karna sejak dari abad pertama sampai kepada permulaan abad keempat tidak kurang dari 19 mazhab hukum atau lebih dalam Islam yang dalam arti kata  muslim terdahulu tidak henti hentinya untuk menyesuaikan hukum dengan peradaban yang berkembang16.

Timbulnya mazhab-mazhab ini disebabkan oleh beberapa faktor yang oleh Ali As-Sais dan Muhammad Syaltut mengemukakanya :

– Perbedaan dalam memahami tentang lafaz Nash

_ Perbedaan dalam memahami Hadist

_ Perbedaan dalam memahami kaidah lughawiyah Nash

_ Perbedaan tentang Qiyas

_ Perbedaan tentang penggunaan dali-dalil hukum

_ Perbedaan tentang mentarjih dalil-dalil yang berlawanan

_ Pebedaan dalam pemahaman Illat hukum

_ Perbedaan dalam masalah Nasakh17

Berbagai kemungkinan yang menjadi penyebab timbulnya selain yang dikemukakan di atas, lahirnya mazhab juga terjadi karena perbedaan lingkungan tempat tinggal mereka, para fuqaha’ terus mengembangkan istinbath hukum yang  mereka gunakan secara individu dari berbagai persoalan hukum yang mereka hadapi dan metode yang mereka gunakan terus melembaga dan terus di ikuti oleh para pengikutnya yaitu para murid-murid mereka.

Mazhab hukum yang terkenal dan pendekatannya terhadap kajian hukum

Sebagaimana telah disinggung, bahwa lahirnya berbagai mazhab yang ada dilatar belakangi oleh faktor yang pada dasarnya perbedaan tersebut dikarenakan perbedaan metodologi dalam melahirkan hukum. Perbedaan ini melahirkan mazhab yang berkembang luas di berbagai wilayah Islam sampai saat ini diantaranya adalah mazhab dari golongan Syi’ah dan dari golongan Sunni:

a) Imam Ja’far

nama lengkapnya Ja’far bin Muhammad al- Baqir bin Ali Zainal- Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah ulama besar dalam banyak bidang ilmu Filsafat, Tasawuf, Fiqih, dan juga ilmu kedokteran.

Fiqh Ja;fari adalah fiqih dalam mazhab Syi’ah pada zamannya karena sebelum dan pada masa Ja’far Ash-Shadiq tidak ada perselisihan. Perselisihan itu muncul sesudah masanya. Dasar istinbat yang beliau pakai dalam mengambil kepastian hukun adalah: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, ‘Aqal (Ra’yu).18

Pengikutnya banyak di Iran dam negara sekitarnya, Turki, Syiria, dan Afrika Barat. Mazhab ini diikuti juga oleh ummat Islam negara lainnya meskipun jumlahnya tidak banyak.

b) Mazhab Hanafi

Mazhab ini dihubungkan dengan Imam Abu Hanifah, ia di kenal sebagai pendiri mazhab hanafi. Nama lengkapnya  adalah Nukman bin Tsabit bin Zuthyi keturunan parsi yang cerdas dan punya kepribadian yang kuat serta berbuat, didukung oleh faktor lingkungan sehingga dalam mengantar beliau menuju jenjang karier yang sukses dalam bidang ilmiyah. Dasar istinbat yang beliau pakai dalam mengambil kepastian hukum fiqih adalah: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qawlu Shahaby, Qiyas, Istihsan, ‘Uruf.

Pola fiqih Abu Hanifah adalah:

-         Kelapangan dan kelonggaran dalam pengalaman ibadah

-         Dalam memberi keputusan dan fatwa, lebih memperhatikan kepentingan golongan miskin dan orang lemah

-         Menghormati hak kebebasan seseorang sebagai manusia

-         Fiqh Abu Hanifah diwarnai dengan masalah fardhiyah (Perkara yang diada-adakan). Banyak kejadian atau perkara yang belum terjadi, tetapi telah difikirkan dan telah ditetapkan hukumnya.

Adapun diantara murid-murid Abu Hanifah yang berperan sangat penting dalam penyebaran mazhab Abu Hanifah maraka adalah:

  1. Abu Yusuf dialah orang pertama menyusun kitab mazhab Hanafi dan memyebarkannya sebagai dalil dari Dasar istinbat imam Malik. Dasar istinbat fiqh Imam Malik adalah Al-Quran, Sunnah, Qiyas, Masalihul Mursalah, ‘Uruf, Qaulu Shahabi. Adapum pola fiqh Imam Malik meliputi:

-         Ushul fiqh Imam Malik lebih luwes, lafadz ‘Am atau Muthlaq dalam nash Al-Qur’an dan Sunnah

-         Fiqhnya lebih banyak didasarkan pada Maslahah

-         Fatwa Sahabat dan keputusan-keputusan pada masa sahabat, mewarnai penjabaran pengembangan  hukum Imam Malik.

Diantara beberapa murid-murid Imam Malik yang mengembangkan ajarannya adalah: Abdullah bin Wahab, Abdul Rahman bin Kosim, Asyhab bin Abdul Aziz, Abdur-rahman bin Hakam, Ashbaga bin Al-faraz al Umawi.20

d). Mazhab Syafi’i

Mazhab ini dibentuk oleh Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin al-Saib bin Abdu-Yazid bin Hasim. Dan kemudian, dia dipopulerkan dengan nama imam Syafi’i. Ia merupakan seorang muntaqil ras Arab asli dari keturunan Quraiys dan berjumpa nasab dengan Rasullulah pada Abdu Al-Manaf. Adapun sumber istinbat beliau mengenai hukum fiqih adalah: Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, Perkataan Sahabat, Qias, Istishab21. banyakkarya-karya iam Syafi’idalam memeberikan keterangan kajian fiqh menurut imam Syafi’i diantaranya : kitab ar-Risalah. al-Um, serta banyaknya pengikut mazhab ini sampai sekarang. Pola pikir imam Syafi’i:

  1. Ciri khas yang dapat dipetik dari fiqih Syafi;i ialah polanya mengawinkan antara cara yang ditempuh Imam Malik dengan Imam Hanafi.
  2. Pembatasan hukum dibatasi pada urusan atau kejadian yang benar-benar terjadi.
  3. Terdapat banyak perbedaan antara pendapat Syafi’i sendiri, antara Qaul Qodim ( paendaptnya sewakyu di Irak ) dengan Qaul Jadid ( pendapatnya sewaktu di Mesir ). Sahabat-sahabatnya yang menyebarkan mazhab ini antaranya Ahmad Ibnu Hambal, Al Hasan bin Muhammad bin Ash-Shabah Az-Zakfani, Abu Ali al Husein bin Ali Qarabisy, Yusuf bin Yahyah Al Buaithy, Abu Ibrahim Ismail Yahya al Muzani dan Ar-Rabik bin Sulaiman al Murady.

e). Mazhab Hanbali

Imam Ahmad adalah tokoh dari mazhab ini beliau bernama Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal. Beliau berpegang teguh pada ayat Al-Quran dipahami secara lahir dan secara mafhum adapun dasar istinbat mengenai hukum fiqih adalah Al-Qur’an, Sunnah, Fatwa sahabat, Qiyas. Adapun pola fikir imam Hanbal adalah:

  1. al-Nushush dari al-Qur’an dan Sunnah. Apabila telah ada ketentuan dalan alqur,an maka Ia mengambil makna yang tersurat, makna yang tersirat sia abaikan.
  2. Apabila tidak ada ketentuan dalam al-Qur’an dan Sunnah maka ia mengambil atau menukilfatwasahabatyang disepakati dari sahabat sebelumya.
  3. apabla fatwa sahabat berbeda-beda maka ia mengambil fatwa sahabat yang paling dekat dengan dalil yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah.
  4. 4. beiau menggunakan hadist mursal dan hadist dha’if apabila tidak ada ketentuan sahabat, atsar, ataupun ijmak yang menyalahinya.
  5. 5. apabila hadist mursal dan dhaif tidak ada maka ia menggunakan metode Qiyas dalam keadaan terpaksa.22
  6. 6. langkah terakhir adalah menggunakan Sadd al-Dzar’i

Beliau tidak memiliki karya yang dia buat sendiri hanya saja para muridnya mengembangkan ajarannya dan membuat karya –karya tentang istinbat hukum yang beliau lakukan, salah satu contoh dari kitab mazhab ini adalah sahabat al-Jamik al-Kabir karya Ahmad bin Muhammad bin Harun. Adapun tokoh yang menyebarkan ajarannya adalah Ahmad bin Muhammad bin Harun, Ahmad bin Muhammad ibn Hajjaj al Maruzi, Ishak bin Ibrahim, Shalih ibn Hanbal, ‘Abdul Malik ibn ‘Abdul Hamid ibn Mahran al-Maumuni23.

E.      Disiplin-disiplin Utama Studi Hukum dan Cabang-cabangnya

Disisplin Hukum adalah sistem ajaran mengenai kenyataan atau gejala gejala hukum yang ada dan hidup di tengah pergaulan. Menghadapi kenyataan yang terjadi dalam pergaulan hidup yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi kenyataan tertentu.

Berbicara disiplin hukum, maka ruang lingkup utamanya tiga yaitu:

  1. Ilmu Hukum adalah Ilmu tentang hukum yang paling umum, sebagai aturan yang paling luas dan konsep yang paling penting. Ilmu hukum ini bisa  di defenisikan sebagai ilmu kaidah yang menelaah hukum sebagai kaidah atau sistem kaidah-kaidah dengan dogmatik hukum dan sistematik hukum.Cabang ilmu hukum diantaranya Sosiologi Hukum, Antropologi Hukum, Psikologi Hukum.
  2. Filsafat Hukum adalah Ilmu pengetahuan tentang hakikat hukum, yang isinya dasar dasar kekuatan yang mengikat dari hukum atau perenungan dan perumusan nilai-nilai, termasuk penyesuain nilai-nilai
  3. Politik Hukum adalah disiplin hukum tang mengkhususkan diri pada usaha memerankan hukum dalam mencapai tujuan yang di cita-citakan oleh masyarakat tertentu atau kegiatan-kegiatan mencari dan memilih nilai-nilai dan menerapkan nilai tersebut bagi hukum dalam mencapai tujuannya.24

Adapun disiplin utama studi hukum dalam hukum Islam tidak lepas dari beberapa kajian yaitu: Disiplin utama Syari’ah, Tarekh Tasyri’, Ushul fiqh, fiqh selanjutnya akan berkembang menjadi cabang cabang kajian studi hukum lain seperti: Ilmu Fiqh ( Fiqh Siyasah, Muamalat, Jinayah, Munakahat dan sebagainya) selanjutnya ada juga kajian Qawaid Fiqhiyah dan Ushuliyah, fatwa, Qanun, Qadha’ dan lain nya.

F.     Tokoh dan Karya Terpenting Perkembangan Mutakhir Kajian Hukum Islam

Perkembangan terakhir dalam kajian hukum Islam ini terjadi setelah adanya persentuhan budaya dengan barat. Bisa dikatakan kalau awal perkembangan mutakhir dalam hukum Islam ini dimulai di Turki dan Mesir yang menyadari bahwa Islam semakin tertinggal dari Barat maka mulai saat itulah muncul toko-tokoh dalam Islam yang mencoba mereformasi hukum Islam dengan mengangkat tema bahwa pintu ijtihad telah terbuka demi perkembangan Islam dari zaman ke zaman.

Dalam berbagai bidang muncul tokoh-tokoh yang mencoba memberikan sumbangan fikirannya dalam perkembangan Islam dan hukum Islam sebagai contoh: Abdul Qadir Audah dengan bukunya Tasyri’ul jina’i Al-Islamy bi al-Qonun al-Wadhie yang memcoba membandingkan antara hukum Perancis dengan hukum Islam. Muhammad Baqir Al-Sadr seorang ulama Syiah dari Irak, Sayyid Abu a’la Al-Maududi seorang  idiolog fundamentalis dalam Islam khususnya Pakistan, Ali Abd Al-Razik  yang menulis buku Al-Islam wa Ushul Al-hukm, buku ini menimbulkan kontroversi di Mesir dan juga negeri-negeri lain karna buku ini mengemukakan mengenai pembenaran di hapuskannya kesulthanan Utsmaniyah di Turki dan berpendapat Islam tidak menentukan bentuk pemerintahan.25

Di Indonesia sendiri pengkajian hukum Islam terus berkembang dengan didirikannya IAIN serta banyaknya universitas-universitas swasta yang mengkaji Islam di berbagai daerah di Indonesia khususnya di fakultas syariah yang benar-benar kajian utama dari fakultas ini adalah hukum Islam. Lain dari itu adanya MUI yang selalu memberikan fatwa yang sesuai yang sesuai dengan keadaan Islam di Indonesia dalam memberikan istinbat hukum sesuai dengan masalah yang ada serta majelis-majelis lainnya disetiap organisasi Islam di Indonesia, seperti majelis tarjihnya Muhammadiyah. Hal ni merupakan suatu karya yang penting bagi ummat Islam Indonesia serta perkembangan yang baik dalam pembaruan hukum Islam. Selanjutnya perkembangan yang paling besar yang ada di Indonesia ini adalah lahirnya Kompilasi Hukum Islam yang merupakan fiqhnya indonesia serta telah banyaknya dimulai pembentukan Undang-undang di Indonesia berasaskan hukum Islam.

Belakangan ini  beredar wacana bahwa KHI yang ada ini sudah tidak cocok lagi menurut kemajuan zaman untuk itu nenerapa tokoh Islam mencoba memberikan pembaruan Khi yang biasa saat ini dikenal dengan Counter Legal Draft KHI (CLD KHI) yang sampai saat ini masih belum selesai di perbincangkan karena masih terjadi pro dan kontra atas isi dari CLD KHI tersebut. Hal ini terjadi dikarenakan sebagian pihak memandang bahwa sejumlah pasal yang ada di dalam CLD KHI itu melanggar ajaran Islam, perbincangan dan wacana akan hal inisangat menyorot perhatian para tokoh-tokoh Islam.

Kontroversi ini terus di perdebatkan hingga saat ini! Siti Musadah Mulia merupakan dengan beberapa anggota kelompoknya adalah penyusun dari CLD KHI ini, ironisnya hal ini tidak diterima oleh kalangan kebanyakan Ulama. Karena rancangan KHI ini dianggap nyeleneh dan tidak sesuai dengan AL-Qur’an dan Sunnah.26

Sebagian ulama telah menghitung, tidak kurang dari 39 kesalahan dalam CLD KHI. Sebagian yang lain mengakulasi ada 19 kesalahan. Karena harus segera dicabut dari peredaran agar tidak membingungkan dan semakin meresahkan masayarakat, hal ini dikenukakan oleh ulana yang tidak mendukung sama sekali tentang pembaharuan ini. Diantara hal-hal yang paling kontroversial dalam pasal-pasal CLD KHI Ini adalah adanya iddah bagi kaum lelaki, tidak diperbolehkannya berpoligami, anak berbeda agama nendapat warisan, wanita bisa menikahkan dirinya sendiri dan banyak lagi hal-hal yang menimbulkan pro dan kontra dalam CLD KHI ini.

Meskipun demikian hal ini merupakan salah satu contoh dari adanya Usaha tokoh-tokoh Islam mengadakan pembaruan dalam hukum Islam adapun metode yang mereka pijak dalam pembuatan CLD KHI ini salah satunya adalah kaidah Ushul yang mengatakan jawaz naskh al-nushush bi al-maslahah serta  yang pasti mengikuti metode ulama terdahulu ataupun dengan metode baru. Patutlah hal ini dijadikan momentum adanya usaha pembaruan hukum Islam serta keseriusan tokoh Islam membuka kembali pintu ijtihad. Upaya mengaktualkan hukum Islam adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat di tawar-tawar lagi, upaya tersebut harus segera dilakukan jika tidak mau hukum Islam tersebut ditinggalkan Wallahu A’lam Bi-Shawwab.

PENUTUP

Secara garis besar saat kajian hikum Islam jadi pembahasan awal dari pembahasan ini tidak lepas dari pemahaman atas Syar’iah, Fiqh, Ushul Al-fiqh, serta hal lain yang berkenaan dengan dasar pembentukan hukun Islam yang kesemuanya bisa dikatakan merupakan asas dari aturan dan kaidah dalam Islam sebagai pengatur kehidupan Ummat Islam dari masa ke-masa yang tidak lepas dari sumber utamanya yaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulnya yaitu Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah itu sendiri serta dilengkapi dengan ijtihad ulama-ulama faqih dalam pengistinbatan hukum Islam yang belum ada kepastian hukumnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Yang paling dikenal ada beberapa ulama hukum yang sumbangan fikirannya sampai saat ini masih dikenal dan dipakai dalam kehidupan ummat muslim di seluruh Dunia yaitu Imam Ja’fary, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibn Hanbal. Kelima ulama ini banyak memberikan wacana hukum dan penyelesaian hukum dalam berbagai kasus hukum dalam dunia Islam serta pembuka wacana keilmuan dalam ilmu hukum Islam yang dikenal dengan fiqh dan pada akhirnya jadi disiplin ilmu yang bercabang-cabang dan terus berkembang dan dikembangkan oleh para ulama ulama fiqh setelahnya begitu juga dengan perkuliahan ini.

Demikianlah makalah ini di perbuat dan penulis sangat menyadari masih banyak kekurangan dalam isi makalah ini, semua ini tak lepas dari kekhilafan dan kekurangan penulis sebagai manusia, kurang dan lebihnya penulis mohon maaf semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Dede Rosyada, Hukum Islam dan Pranata Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996

Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet III 1992

Hasbi AR, Perbandingan Mazhab Suatu Pengantar, Medan: Naspar Djaja 1985

Mubarak, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: Remaja Rosyda Karya, 2000.

Jhon L. Esposito, Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, Bandung: Mizan, 2002.

Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, Bandung: LPPM Universitas Bandung, 1995.

Khursid Ahmad dkk, Shari’ah: the way of god, the Islamic Fondation, terj. Nashir Budiman dan Mujibah Utami, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995

Louis Ma’luf, Al-Munjid fi Al-Lughat, Beirut: Dar al-Masyriq, t.th.

Lajnah Marasiah, Buhutsu fi Fiqhi ala Mazhabi li Imam Syafi’i, Kairo:Maktabu

M. Ali As-Sais dan Mahmud Syaltut, Perbandingan Mazhab dalam Masalah Fiqh, terj. Ismuha, Jakarta: Bulan Bintang, 1987

Muhammad Abu Zahrah, Muhadarat fil Ushul al-Fiqh al-Ja’fary, Muhadharat ad-Dirasah al-Arabiyah al-‘Aliyah, 1995

Soedjono Dirjo Sisworo, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000

Said Ramadan. Islamic Law its Scope and Equity. Jakarta:Gaya Media Pratama, 1996.

Risalah Wathabi’iayah, 2000.

Wahbah Zuhaili, Al- Fiqh al-Islam wa-Adillatuhu, jld I, Damaskus: Darul Fikri,1997


[1] Louis Ma’luf, Al-Munjid fi Al-Lughat, (Beirut: Dar al-Masyriq, t.th.), h. 383

[2] Lajnah Marasiah, Buhutsu fi Fiqhi ala Mazhabi li Imam Syafii (Kairo:Maktabu Risalah Wathabi’iayah, 2000), h.2

[3] Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam (Bandung: LPPM Universitas Bandung,1995), h.10

[4] Wahbah Zuhaili, Al- Fiqh al-Islam wa-Adillatuhu, jld I (Damaskus: Darul Fikri,1997) h.29

[5] Juhaya S. Praja. Op cit. h.13

[6] Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Usul al-Fiqh ,cet XII (Kuwait: An-Nasir,1978), h.738

[7] Wahbah Zuhaili, Op cit. h.32

[8] Departemen Agama RI, Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ananda Utama, 1997), h.875

[9] Abdul Azis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,1997), h.326

10 Lisan al-Arab, jld XI, (Beirut: Dar-Sadr, tth) h.572

11 Abdul Azis Dahlan. Op cit. h,326

ud Ali, Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada Cet II 2004), h.44

13 Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet III 1992), H.78

14 Muhammad Daud Ali, Op cit. h 41

15 Khursid Ahmad dkk, Shari’ah: the way of god, the Islamic Fondation, terj. Nashir Budiman dan Mujibah Utami, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995) h. 80

16 Said Ramadan, Islamic Law its Scope and Equity (Jakarta:Gaya Media Pratama, 1996), h.66

17 M. Ali As-Sais dan Mahmud Syaltut, Perbandingan Mazhab dalam Masalah Fiqh, terj. Ismuha (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h.16-18.

18 Muhammad Abu Zahrah, Muhadarat fil Ushul al-Fiqh al-Ja’fary, (Muhadharat ad-Dirasah al-Arabiyah al-‘Aliyah, 1995) h.28.

20 Ibid, h. 83

21 Dede Rosyada, Hukum Islam dan Pranata Sosial (Jakarta: Raja Grafindo Persada 1996), h.151

22 Jaih Mubarak, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, (Bandung: Remaja Rosyda Karya, 2000) h.118

23 Ibid, h.116

24 Soedjono Dirjo Sisworo, Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000),h.46.

25 Jhon L. Esposito, Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern (Bandung: Mizan, 2002), h.209-210

26 Abdul Moqsith Ghazali, Argumen Metodologi CLD KHI, www.Islam lib.com

Aalborg – Denmark,  Konferensi dan silaturrahmi Bansigom Donja WAA II yang berlangsung di Denmark pada 22 – 26 July 2010,  dan di buka oleh wakil walikota Aalborg, turut di meriah dengan penampilan Group Putroe Aceh.

Helle Frederiksen Wakil wali kota Aalborg yang berharap hubungan antara Denmark dengan Aceh bisa ditingkatkan lagi terutama dalam hal pertukaran budaya menjadi salah seorang yang menjaksikan tarian Aceh tersebut kata Nurmala Syahabuddin Ketua Putroe Aceh.

Group Putroe Aceh  yang di anggotai oleh anak-anak Aceh tinggal di Denmark hadir dengan tarian Ranub lampuan mendapat sambutan baik dari semua peserta, bahkan menurut ketua Putroe Aceh wakil walikota Aalbor Helle Frederiksen sempat menberitau bahwa tarian itu sangat mengagumkan dan cantik sekali.

Sedang kan pada hari berikutnya Group Putroe Aceh menampilkan tarian Bungong seulanga dan tarian kreasi baru yaitu Penganten baroe, dan serta untuk hari terakhir Konferensi putroe aceh juga menampilkan tari Seulaweut yang turut dimainkan oleh dara dara aceh yang tinggal di denmark.

Misi dari Putroe Aceh singkat saja sebenarnya, yaitu untuk mempromosikan budaya aceh dimata internasional, dan hal ini mulai serius dengan mendapat berbagai undangan dalam berbagai acara dikota Aallborg maupun dikota lain di Denmark, sebelumnya 22/5 Putroe Aceh juga tampil di acara Global Fair di Kota Aaalbor dan turut di hadiri oleh duta Pantai Gandeng (Afrika). Untuk kedepan putroe aceh di harap semakin bersemangat dalam menjalankan misi kebudayaan. Kami berharap semoga kebudayaan dan kepariwisataan Aceh semakin dikenal di dunia internasional.

Putroe Acheh menampilkan beberapa tari kesenian Aceh dalam koferensi dan silaturrahmi Bansigom Donja II WAA di hadapan para tetamu dan peserta yang ikut hadir pada acara ini seperti Denmark, Norwegia, Swedia, Perancis, serta para undangan dari Aceh yang hadiri  untuk sama-sama membahas bagaimana mengekalkan perdamaian Aceh ungkap Faisal Abdulrahman Aktivis WAA, menyangkut sosial, politik dan ekonomi Aceh di masa mendatang turut di bahas namun semua merujuk pada kesepakatan bersama antara RI-GAM.

Tarian-tarian Putroe Acheh yang di tampilkan bertujuan mempromosi secara langsung adat istiadat kesenian Aceh di mata dunia Internasional.

Antara hal yang penting pada konferensi di simpulkan, bahwa pemerintah Aceh dan Indonesia sangat-sangat penting untuk melaksanakan poin-poin yang di hasilkan di Helsinki bagi menghormati kususnya hak rakyat Aceh, kami menaruh keyakinan melalui pelaksanaan butir-butir MoU secara nyata di Aceh, maka perjanjian damai yang di saksikan langsung oleh masyarakat Internasional akan dapat di kekalkan di Aceh.

Kami harapkan pemerintah Aceh benar-benar memperhatikan haknya di dalam hasil kesepakatan yang telah di tanda tangani antara dua belah pihak, karna hasil kesepakatan itu sangat mahal harganya termasuk puluhan ribu nyawa rakyat Aceh melayang dalam masa konflik dan Tsunami.

Group Putroe Acheh di Denmark yang di pimpin oleh Nurmala Syahabudin saat ini di lihat sangat gigih mempromosikan kesenian/budaya Aceh di Europa sebagai bagian mempekenalkan Aceh di mata dunia, dan ini perlu perhatian kusus dan dukungan dari Pemerintah Aceh dan Parlement.

Anak-anak Aceh pun nampak sangat yakin untuk menari di depan peserta, dan pernah megambil penghargaan pada acara-acara khusus di Denmark. Beuteu ingat ”adat Bak Poe  Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala, Qanun Bak Putroe Phang, Reusan bak Bentara”.  Seiring dengan itu WAA akan   bekerja membatu Aceh dengan bebagai cara agar masyarakat mencapai kemakmuran di masa mendatang.

Tarmizi Age (Mukarram) adalah Koordinator World Achehnese Association berdomisili di Denmark


Tarmizi Age/Mukarram
World Acehnese Association ( WAA )
Ban sigom donja keu Aceh !

Sekretariat:
Molleparken 20,
9690 Fjerritslev,Denmark,
Mobile:0045 24897172
acehwaa@gmail.com
www.waa-aceh.org

UU PERS

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

  1. Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, megolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
  2. Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan atau menyalurkan informasi.
  3. Kantor berita adalah perusahaan pers yang melayani media cetak, media elektronik, atau media lainnya serta masyarakat umum dalam memperoleh informasi.
  4. Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.
  5. Organisasi pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.
  6. Pers nasional adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers Indonesia.
  7. Pers asing adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers asing.
  8. Penyensoran adalah penghapusan secara paksa sebagian atau seluruh materi informasi yang akan diterbitkan atau disiarkan, atau tindakan teguran atau peringatan yang bersifat mengancam dari pihak manapun, dan atau kewajiban melapor, serta memperoleh izin dari pihak berwajib, dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik.
  9. Pembredelan atau pelarangan penyiaran adalah penghentian penerbitan dan peredaran atau penyiaran secara paksa melawan hukum.

10.  Hak Tolak adalah hak wartawan karena profesinya, untuk menolak mengungkapkan nama atau identitas lainnya dari sumber berita yang harus dirahasiakannya.

11.  Hak Jawab adalah hak seorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

12.  Hak Koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

13.  Kewajiban Koreksi adalah keharusan melakukan koreksi atau ralat terhadap suatu informasi, data, fakta, opini, atau gambar yang tidak benar yang telah diberitakan oleh pers yang bersangkutan.

14.  Kode Etik Jurnalistik adalah himpunan etika profesi kewartawanan.

BAB II
ASAS, FUNGSI, HAK KEWAJIBAN
DAN PERANAN PERS

Pasal 2

Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.

Pasal 3

  1. Pers Nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
  2. Di samping fungsi-fungsi tersebut ayat (1), pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.

Pasal 4

  1. Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara,
  2. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelanggaran penyiaran.
  3. Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.

Pasal 5

  1. Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.
  2. Pers wajib melayani Hak Jawab.
  3. Pers wajib melayani Hak Koreksi.

Pasal 6

Pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:

  1. Memenuhi hak masyrakat untuk mengetahui.
  2. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta meghormati kebhinekaan;
  3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar;
  4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum;
  5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

BAB III
WARTAWAN

Pasal 7

  1. Wartawan bebas memilih organisasi wartawan.
  2. Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik

Pasal 8

Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.

BAB IV
PERUSAHAAN PERS

Pasal 9

  1. Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers.
  2. Setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia.

Pasal 10

Perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.

Pasal 11

Penambahan modal asing pada perusahaan pers dilakukan melalui pasar modal.

Pasal 12

Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan: khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan.

Pasal 13

Perusahaan pers dilarang memuat iklan:

  1. Yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau mengganggu kerukunan hidup antar umat beragama, serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat;
  2. Minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  3. Peragaan wujud rokok dan penggunaan rokok.

Pasal 14

Untuk mengembangkan pemberitaan ke dalam dan ke luar negeri, setiap warga negara Indonesia dan negara dapat mendirikan kantor berita.

BAB V
DEWAN PERS

Pasal 15

  1. Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan menigkatkan kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang independen.
  2. Dewan Pers melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut:
    1. melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain;
    2. melakukan pengkajian untuk mengembangkan kehidupan pers;
    3. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;
    4. memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers;
    5. mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah;
    6. memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan;
    7. mendata perusahaan pers.
    8. mendata perusahaan pers.

3. Anggota Dewan Pers terdiri dari:

a. wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan;

b. pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers;

c. tokoh masyarakat, ahli di bidang pers dan atau komunikasi, dan bidang-bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

4. Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota.

5. Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

6. Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudah itu hanya dipilih kembali untuk satu periode berikutnya.

7. Sumber Pembiayaan Dewan Pers berasal dari:

a. organisasi pers;

b. perusahaan pers;

c. bantuan dari negara dan bantuan lain yang tidak mengikat.

BAB VI
PERS ASING

Pasal 16

Peredaran pers asing dan pendirian perwakilan perusahaan pers asing di Indonesia disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

BAB VII
PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 17

1. Masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan.

2. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa:

a. memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, etika, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers.

b. menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.

BABVIII
KETENTUAN PIDANA

Pasal 18

1. Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja dan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2. Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 13 dipidana dengan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

3. Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 9 ayat (2) dan Pasal 12 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 19

1. Dengan berlakunya undang-undang ini segala peraturan perundang-undangan di bidang pers yang berlaku serta badan atau lembaga yang ada tetap berlaku atau tetap menjalankan fungsinya sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan undang-undang ini.

2. Perusahaan pers yang sudah ada sebelum diundangkannya undang-undang ini, wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan undang-undang ini dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak diundangkannya undang-undang ini.

BAB X
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 20

Pada saat undang-undang ini mulai berlaku:

1. Undang-undang Nomor 11 Tahun1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1966 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2815) yang telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3235);

2. Undang-undang Nomor 4 PNPS Tahun 1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1963 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2533), Pasal 2 ayat (3) sepanjang menyangkut ketentuan mengenai buletin-buletin, surat-surat kabar harian, majalah-majalah, dan penerbitan-penerbitan berkala; dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 21

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan perundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta

pada tanggal 23 September 1999

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

ttd

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal 23 September 1999

MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA

REPUBLIK INDONESIA

ttd

MULADI

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 16

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.