Feeds:
Pos
Komentar

 

Oleh: Aydil Fida

Negara selalu menjaga hak-hak warganya, seperti; keamanan, keadilan, kemajuan, serta menjamin hak berpendidikan. Negara yang tahu arti kemajuan akan sangat mendukung warganya untuk selalu berkecimpung dalam dunia pendidikan. Bahkan mereka menggratiskan (memurahkan) biaya pendidikan untuk pembangunan generasi yang mapan.

Negara Islam di masa kejayaannya, sangat memperhatikan pendidikan, bahkan digratiskan untuk umat. Sehingga ilmu dari pemikir-pemikir Arab masih bisa dirasakan hingga sekarang ini. Hanya bermodalkan menjalankan amanah agama untuk terus menciptakan generasi yang kuat.

Jepang juga bisa membangun negaranya dari kehancuran dalam waktu singakat dengan pendidikan. Pemerintah mengirim warganya ke barat atas biaya negara untuk mempelajari beragam ilmu, yang kemudian mereka mampu bangkit dari kehancuran pasca perang dunia dua.

 

Demikian halnya dengan negara-negara barat yang sudah menggratiskan pendidikan untuk rakyatnya, sehingga dapat kita maklumi kemajuan yang sudah mereka petik sekarang ini. Itulah pentingnya pendidikan untuk kehidupan.

Namun sangat aneh dengan negara kita, Indonesia. Kalau kita lihat  dan survey, sungguh Indonesia itu bukanlah negara yang miskin, tapi negara yang sangat berkemungkinan kaya. Sayangnya yang terjadi hari ini malah sebaliknya, rakyat Indonesia seperti ayam yang kelaparan di lumbung padi. Kenapa ini bisa terjadi?

Jangan heran dengan hal yang terjadi hari ini. Itulah nasib negara yang tidak melihat pendidikan sebagai pilar utama dalam pembangunan. Buktinya, sampai hari ini biaya pendidikan di Indoensia masih sangat mahal, hanya mampu dijalani sebagian warganya yang berekonomi kelas atas. Sepertinya belum ada niat yang mumpuni dari pemerintah untuk membangun negara ini. Jangan heran ketika anda melihat Indonesia dalam kehancuran nantinya.

 

Kepedulian pemerintah untuk pendidikan sungguh sangat minim, bisa anda lihat cerita mahasiswa yang dievakuasi dari mesir. Mereka bagaikan anak tiri yang dipisahkan dari ibunya tanpa kepedulian yang berarti.

Dari cara evakuasi saja sudah bisa terbaca, kalau mahasiswa itu bagaikan harta yang tak berharga. Bayangkan, evakuasinya terbatas. Sepertiganya dievakuasi, dua per tiganya ditinggalkan di wilaya konflik. Andaikan perang besar melanda Mesir ketika Reformasi itu, mungkin mereka yang tidak terevakuasi sudah tidak terlihat di muka bumi ini. (Negara mengevakuasi warganya waktu itu cuma sebagai simbolis sepertinya. Memang negara ini tidak menghargai nyawa warganya. Kalau ditinjau, mungkin bisa dikatakan, tujuan dari evakuasi itu tidak lebih sekedar untuk dokumentasi dan pemberitaan ke dunia Internasional saja  (tujuan politik saja-).

Kembali ke pendidikan, sebagian besar mereka yang menjalankan pendidikan di Mesir ini atas biaya pribadi. Namun dengan rejeki yang tidak disangka, kebanyakan mereka yang sudah lama merindukan kampung halaman bisa terwujud untuk sementara.

Tapi alangkah sayangnya, ketika mereka akan kembali untuk melanjutkan pendidikannya, malah pemberangkatan untuk baliknya tidak jelas hingga hari ini. Janjinya akan dikembalikan paling lambat hingga 31 Maret. Padahal ujian di Universtasnya, ada yang akan di mulai dari tanggal 2 juni 2011. Inilah bukti tidak adanya kepedulian pemerintah untuk memajukan negara dari keterbelakangan. Pemerintah tidak serius memperhatikan pendidikan generasi masa depannya. Seolah-olah pejabat pemerintah lagi disibukkan dengan aktivitas pribadi.

Apakah tidak ada solusi dari ribuan pejabat di tanah air untuk memikirkan rakyatnya dalam mengarungi pendidikan? Apakah pemerintah memang mengabaikan kepeduliannya untuk mahasiswa bidang agama, yang menurutnya tidak ada bernilai bagi pembangunan Indonesia!? Padahal kehancuran Indonesia juga dikarenakan kurangnya modal agama dari bangsanya, sehinga lahir koruptor di seantaro nusantara, lahir kriminalis-kriminalis yang tidak punya etika lagi. Bukankan mereka yang akan kembali dari Mesir yang akan membantu Indonesia membasmi krisis ini? Tapi kenapa mereka masih diabaikan!? Apakah Indonesia hanya akan mendukung liberalis-sosialis saja di tanah air?
Aydil Fida adalah Aktivis World Achehnese Association (WAA), mahasiswa di Mesir.


Tarmizi Age/Mukarram
World Acehnese Association ( WAA )
Ban sigom donja keu Aceh !

Sekretariat:
Molleparken 20,
9690 Fjerritslev,Denmark,
Mobile:0045 24897172
acehwaa@gmail.com
www.waa-aceh.org

Stadion San Siro atau Giuseppe Meazza terletak di kota Milan, Italia, merupakan salah satu stadion yang paling terkenal di dunia, karena stadion ini merupakan home base bagi dua klub besar Italia yang selalu berseteru hebat dalam sejarahnya, AC Milan dan Inter Milan.

Di stadion ini, Setiap tahunnya selalu menghadirkan persaingan dan pertandingan hebat antara AC Milan melawan Inter Milan yang di kenal dengan derbi Della Madonnina, yang selalu di nantikan oleh jutaan penikmat sepak bola di seluruh dunia. Perseteruan tidak hanya dalam pertandingan tapi juga dalam penamaan stadion, bagi pendukung AC Milan stadion ini di beri nama San Siro, sedangkan pendukung Inter Milan menamakannya Giuseppe Meazza.

Ketika di periksa oleh petugas bandara Malpessa Milan, kami mengatakan datang ke Milan untuk menonton pertandingan AC Milan dan memberi dukungan penuh kepada AC Milan, petugas tersebut, yang rupanya pendukung Inter Milan kecewa berat dan ”memaksa” kami untuk tidak mendukung Milan serta mengatakan we are enemy forever (kita musuh untuk selamnya). Ini merupakan gambaran permusuhan tifosi kedua klub di satu kota ini.

Stadion yang didirikan pada tanggal 19 September 1926 mampu menampung 85.700 penonton, bisa di jangkau dengan berbagai jenis transportasi publik dari pusat kota Milan, termasuk metro (subway). Banyaknya akses ke stadion ini membuat calon penonton mudah mencapainya dan tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas walaupun puluhan ribu penonton membanjiri stadion ini.

Selain transportasi yang mudah, tiket untuk menyaksikan pertandingan juga tidak menjadi persoalan, tiket bisa di dapatkan di bank, yang merupakan counter resmi untuk penjualan tiket atau bisa di beli langsung di counter yang ada di area stadion. Penjualan tiket biasanya dimulai dua minggu sebelum pertandingan, bagi calon penonton yang berada di luar negeri bisa membeli tiket jauh-jauh hari melalui counter counter penjualan tiket di internet, untuk harga termurah biasanya dibanderol 32 euro (sekitar 380.000 rupiah), kecuali derbi, big match melawan Juventus atau pertandingan liga champion.

Mendatangi San Siro pada saat adannya pertandingan tidak ubahnya seperti mendatangi stadion- stadion di indonesia, kita akan menemukan begitu banyak penjual yang memanfaatkan momen ini, mulai dari penjual merchandise klub sampai penjual aneka makanan dan minuman, mereka berjualan di kios kios yang di jejar di sekitar stadion bahkan ada yang berjualan menggunakan mobil bak terbuka seperti di tempat kita. Walaupun klub memiliki counter resmi untuk penjualan produk mereka, namun banyak sekali di temukan kios kios yang menjual merchandise bukan produk asli yang tentunya harga dan kualitasnya jauh lebih murah dan rendah dari produk resmi yang berhologram.

Untuk memasuki stadion, calon penonton harus melewati pemeriksaan yang ketat, seluruh barang bawaan akan di periksa oleh petugas keamaan, makanan dan minuman dilarang masuk. Setelah melewati petugas keamanan, calon penonton harus melewati pintu masuk dengan cara menggesek tiket pada mesin di pintu masuk, bila penonton memegang tiket palsu, maka penonton akan tertahan di pintu ini, tidak bisa membuka pintu masuk ke dalam stadion.

Bagi anda yang takut ketinggian, ada baiknya mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan tiket yang tempat duduknya rendah dan dekat dengan pemain serta masuk melalui pintu bawah stadion, karena untuk pemegang tiket ekonomi harus menaiki tangga tinggi yang menyerupai spiral, penonton harus berjalan memutari tangga untuk memasuki stadion dan tentu saja menonton dari tempat yang tinggi.

Di tiap sudut stadion tersedia tempat penjualan makanan dan minuman, namun yang menarik di dalam stadion juga ada beberapa penjual asongan yang menjajakan minuman dan makanan ringan, ada yang duduk pada satu tempat dan ada yang terus berjalan menjajakan makanan seperti di stadion lampineung Banda Aceh.

Milan memang di kenal sebagai kota mode seperti halnya Paris dan New York, namun sepak bola rasanya lebih menyatu dan mengental dengan penduduknya dan menjadi daya tarik turis serta sumber pemasukan. Banyak orang hidup dari bisnis sepak bola di kota ini, mulai dari pemilik klub, pemain, petugas stadion sampai pedagang asongan.

Kalaupun ada hal yang mungkin membuat turis kurang nyaman di kota Milan adalah bahasa inggris tidak terlalu pepuler di kota ini.

 

Muhammad Armiyadi Signori adalah Staf Rumah Sakit Jiwa Aceh, Kuliah di Norwegia, Aktivis World Achehnese Association.


Tarmizi Age/Mukarram
World Acehnese Association ( WAA )
Ban sigom donja keu Aceh !

Sekretariat:
Molleparken 20,
9690 Fjerritslev,Denmark,
Mobile:0045 24897172
acehwaa@gmail.com
www.waa-aceh.org

Berkat partisipasi Masyarakat Aceh Denmark, teman – teman aktivis  World Achehnese Associationbantuan (WAA) dan dukungan dari berbagai pihak, sehingga kita sudah bisa menyalurkan bantuan ke Tangse yang belakangan ini tertimpa musibah.

Bantuan berupa tikar sembahyang ( Ambal ) untuk beberapa Menasah yang di landa bencana di Tangse, Pidie – Aceh, sudah di serahkan dengan bantuan lembaga ACDK (Aceh – Denmark) Pidie Jaya pada rabu 18 Maj 2011 dengan mendatangi langsung menasah –  menasah di sana, serta menyerahkannya melalui Geutjhik Gampong masing – masing.

Berdasarkan informasi yang kita terima dari Aceh, begitu bantuan di serahkan, langsung saja tokoh masyarakat mengutarakan rasa terimakasihnya yang tak terhingga ke pada anak – anak bangsa di luar negri, yang telah berperan membantu kebutuhan yang memang boleh di sebut sangat di perlukan, sehingga masyarakat akan lebih selesa dalam melaksanakan aktifitas di menasah, bahkan meunurut cerita Zainuddin Ar salah seorang yang terlibat dalam pembagian sumbangan, ada menasah yang sangat parah di terjang banjir katanya, seakan – akan terlihat berhancuran.

Adapun bantuan – bantuan tersebut yang telah di serahkan terimakan, untuk meunasah Gampong Peunalom II sebanyak 2 Bal, yang di terima oleh Kepala dusun  M. Jamil  beserta beberapa tokoh masyarakat, untuk meunasah Gampong Peunalom I sebanyak 2 Bal, yang di terima oleh Geutjhik Bakri Hasan beserta beberapa tokoh masyarakat, untuk meunasah Gampong Layan sebanyak 2 bal, yang di terima oleh Geutjhik  Usman Assalam dan beberapa tokoh masyarakat, untuk Mesjid/meunasah gampog rantoe Panyag sebanyak 3 bal, yang di terima oleh Geutjhik Hamdani Hasballah dan pengurus mesjid serta beberapa orang perangkat desa.

Geutjhik Fadlan Yahya (ketua ACDK Pidie Jaya), di dampingi Najibuddin (Bendahara ACDK) serta rombongan di percaya untuk menyerahkannya sumbangan tersebut.

Sekalipun sumbangan tersebut kecil, namun itu merupakan bahagian dari ke pedulian kami di luar negeri terhadap masyarakat Aceh.
Fjerritslev – Denmark
29 Maj 2011

Tarmizi Age/Mukarram

Koordinator WAA

Tarmizi Age/Mukarram
World Acehnese Association ( WAA )
     Ban sigom donja keu Aceh !
Sekretariat:
Molleparken 20,
9690 Fjerritslev,Denmark,
Mobile:0045 24897172

Meretas Jalan Pecerahan Islam di Pentas Global

Oleh: Muhammad Dayyan

 

Globalisasi sangat menggelisahkan sebagian masyarakat kita. Karena globalisasi telah menjadi sarana perluasan emperialisme yang mengancam kearifan, nilai-nilai lokal dan maraknya imitasi (peniruan) budaya pop bagi generasi muda. Kecanggihan teknologi imformasi sebagai instrumen globalisasi menjadi ancaman yang menakutkan dan momok yang menyeramkan.

Kini kita berada di persimpangan jalan peradaban. Dominasi kapitalisme global melalui rezim neo-liberalisme semakin menancapkan kekuasaannya ke setiap lini kehidupan jagad raya ini. Lalu budaya yang serba menghambakan diri pada materi, kekuasaan, ego, dan nafsu bilogis kian mekar. Di sisi lain himpitan ekonomi-politik juga telah meminggirkan umat Islam ke situasi mustadh’afin yang terkoyak di semua lini. Situasi paradoks tersebut kadang menampilkan perilaku muslim yang saling bermusuhan (antagonistik). Kita bersemangat untuk serba ingin Islami pada kulit luar, minus substansi, kehilangan kejujuran yang alami, sekaligus mengandung politisasi “nuansa islami” di ruang publik yang beraroma kemunafikan.

Situasi sosiologis yang sarat hegemoni, godaan, dan himpitan telah melahirkan ekstremitas baru dalam bangunan umat Islam. Islam menjadi serba teosentristik—bertindak atas nama Tuhan—untuk saling melenyapkan. Disisi lain sebagian ummat menghukum seluruh produk ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai seuatu kutukan dan menyalahkan globalisasi dengan vonis haram karena tidak terdapat dalam Alquran dan Alhadist. Pada kenyataanya sikap apriori ini tidak dapat mengubah sedikitpun kondisi yang ada. Di sinilah pentingnya mendiskusikan Islam sebagai jalan pencerahan. Yaitu Islam yang diwarnai dengan gerak yang penuh mozaik dan menawarkan jalan peradaban baru; jalan pencerahan menuju ummat yang berkemajuan.
Sesungguhnya Islam empat belas abad silam telah lahir dengan semangat globalisasi dan menyeru kepada umat manusia untuk melakoni globalisasi sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat Ar-Rahman ayat 33 “hai masyarakat jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi (menembus) penjuru langit dan bumi (globalisasi), maka lintasilah, kamu tidak akan sanggup melintasinya melainkan dengan kekuatan (ilmu pengetahuan, teknologi, kemampuan ekonomi dan politik)”. Dalam surat al-Jum’ah ayat 10 Allah berpesan kepada orang-orang beriman “apabila telah selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (salah satunya adalah melakukan interaksi globalisasi)…”

Kehadiran Islam sebagai agama tiada lain untuk pencerahan kehidupan masyarakat global, “lituhrijannas minal-dhulumat ilan-nur”, membebaskan manusia dari kegelapan (kejahiliyahan) kepada cahaya (kebenaran, al-Islam). Pesan globalisasi inilah yang kemudian menumbuhkan tradisi pencerahan di kalangan masyarakat Arab yang awalnya sangat primitif.

Pesan-pesan Alquran menjadi salah satu kekuatan peradaban di pentas dunia, yang menyebar dari jazirah Arabia kemudian menglobal ke seluruh penjuru dunia sebagaimana misi Islam menjadi rahmatan lilalamin (rahmat bagi kehidupan globalisasi). Lalu kenapa kita ummat Islam hari ini menjadi korban dan tumbal globaliasi? Itu karena kita tidak lagi membaca Alquran sebagai sumber inspirasi penghayatan tapi cendrung kita perlombakan bahkan sebagai hiasan atau pengusir makhluk halus.

Sebagian kita cendrung menjadi umat konservatif yang anti perubahan. Disisi lain terseret dalam pentas global yang menggadaikan nilai-nilai Islam dengan memperhambakan diri pada kapitalisme. Padahal Islam sebagai agama merupakan inspirasi penggerak perubahan. Karena perubahan sebagai sunnatullah, artinya tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Sikap konservatif yang anti perubahan adalah sikap yang melawan sunnatullah. Maka pertanyaan kemudian adalah kenapa globalisasi itu sarat dengan kemungkaran?

Sesungguhnya yang mengambil peran untuk mengelola perubahan bukan globalisasi, tapi masyarakat yang bebas nilai dan memamfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk menkampanyekan budayanya yang tidak sesuai dengan Islam. Mereka telah menangkap semangat global yang dipesankan Alquran, tapi bukan nilai ajaran Islam itu. Padahal manusia barat juga manusia yang memiliki potensi kemanusiaan (intelektual) sama dengan manusia Timur yang mayoritas muslim. Kita sendiri menjadi kufur nikmat dengan tidak memaksimal potensi kemanusiaan yang dianugerahkan Allah SWT, sehingga kita tidak bisa mendorong perubahan ke arah yang lebih baik dengan memamfaatkan seluruh hukum perubahan.

 

Semestinya, arus teknologi imformasi yang kita anggap ancaman, dapat dan mampu kita ubah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dalam hal ini ada pelajaran menarik dari kerang di lautan yang mengubah ancaman pasir bagi dirinya bila masuk ke dalam tubuhnya yang sangat lembut dapat mengancam hidupnya tapi ia mampu mengubah menjadi mutiara yang berharga.

Menjadi penting bagi kita umat Islam, untuk kembali mengambil peran sebagai pelaku setiap gerak perubahan di pentas global dengan mengaktualisasikan nilai-nilai kerasulan (Wahyu Allah). Semangat globalisasi sebagaimana yang dipesankan Tuhan pemilik alam semesta seperti firman-Nya, “ma wa arsalna-ka illa rahmatan lil-‘alamin” adalah semangat gerak dinamis Islam yang hadir melintasi batas-batas geografis kenegaraan sebagai rahmat bagi semesta alam.

Islam sebagai agama kehidupan senantiasa menghadirkan semangat kemodernan. Ruh Islam sebagai kekuatan peradaban harus kembali diaktualisasi dalam kehidupan ummat Islam, bukan Islam menjadi anti-kemajuan dan anti-peradaban. Bukan pula wajah Islam yang maya, tampak murni dari luar tapi tidak otentik dalam isi dan perilaku. Bukan Islam sekadar ornamen nan elok dipandang yang banyak menyembunyikan agenda politik. Tapi Islam yang sungguh-sungguh otentik, sekaligus mencerahkan kehidupan.

Kekuatan Islam terletak pada susbtansi ajarannya, yang sejatinya memang bercorak otentik (murni, asli) sekaligus modern atau berkemajuan. Karena itu, sejak kelahirannya Islam yang dibawa Nabi akhir zaman juga melakukan pencerahan sebagai gerak yang menyatu dalam risalah rahmatan lil alamin. Islam melakukan penguatan nilai yang revolusioner terhadap sangkar besi jahiliyah, yang melahirkan gerak–takhrij min al-dzulumat ila al-nur. Itulah substansi sekaligus gerak pencerahan Islam. Membebaskan manusia dari kegelapan (dalam makna yang seluas-luasnya) ke kehidupan yang bercahaya (dalam makna yang juga luas seluas dimensi ajaran Islam).

Islam membebaskan dan mencerahkan
Selang tiga abad hingga kejatuhannya di Baghdad tahun 1258, Islam telah hadir menjadi kekuatan sejarah baru dalam peradaban dunia. Di era itu semangat Islam telah melahirkan banyak perubahan yang spektakuler dari rahim Islam. Kemajuan pemikiran filsafat (kalam), ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga ke format budaya baru yang berbasis akhlaq dan kemoderenan sungguh sebuah peradaban yang agung dengan karya-karya yang ditulis oleh Ibn Rusyd, Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Farabi, Al-Hawarizmi, Al-Kindi, Ibn Khaldun, dan pemikir-pemikir besar Islam lainnya menjadi referensi sekaligus inpirasi perkembangan peradaban yang spektakuler. Padahal saat itu Barat tengah tertidur lelap dalam buaian teosentrisme dan alam pikiran yang jumud, bahkan gelap gulita.

Rentang abad tengah (9 s/d 10 M) sebagai abad kebangkitan intelektual dan kultural Islam yang sepektakuler dengan revolusi pemikiran dan budaya Islam yang bercorak peradaban baru—the new civilization—menyambung matarantai peradaban sebelumnya (Yunani, Babylon, Persia). Islam yang kosmopolit, humanistik, kultural, dan saintifik yang puncaknya pada era Abasiyyah. Kemudian mengalami kemunduran, bahkan kejatuhan. Selanjutnya Barat mengambil alih peran di pentas global. Kemodernan yang dialami Barat tidak terlepas dari semangat pencerahan dari umat Islam saat terjadi interaksi di Andalusia.

Transformasi semangat kemodernan ilmu pengetahuan yang melahirkan sejumlah teknologi kemudian terbit dari wilayah Eropa kemudian Amerika, yang melahirkan peradaban baru hingga kini. Hanya saja, gerakan pencerahan di Barat coraknya berbasis humanisme yang sekularis (memisahkan nilai agama dengan ilmu pengetahuan). Ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemikiran selanjut melahirkan nihilisme (kekosongan spiritualitas) dan ateisme Barat, yang membuahkan krisis moral yang kronis.

Pilihan humanisme-sekuler di Barat sebagai bentuk pemberontakan terhadap teosentrisme agama yang jumud pada abad pertengahan. Hegemoni gereja yang luar biasa monolitik dan anti sains serta anti-humanisme telah menampilkan kekuasaan politik yang despotik atas nama Tuhan. Renaisans Barat menjadi pendulum peradaban di pentas global yang melahirkan banyak paradoks dalam peradaban modern yang ditampilkannya. Namun dalam gerakan ilmu pengetahuan dan pemikiran Barat ada sisi positif yakni lahirnya tardisi filsafat dan ilmu sosial kritis. Salah satu tokohnya Kant memperkenalkan filsafat pencerahan, kemudian dilanjutkan oleh para pemikir kritis seperti Habbermas, Horkaimer, Ardono, dan para pelanjutnya yang melahirkan gerakan praksis emansipatoris yang menyertai perkembangan ilmu-ilmu sosial kritis untuk pencerahan.

Sekarang, kita umat yang meyakini Islam sebagai agama yang sempurna sebagai wahyu akhir zaman yang diturunkan kepada umat manusia (QS Al-Maidah/5:3), seharusnya menjadikan Islam sebagai inspirasi sekaligus frame bagi pencerahan dengan memberdayakan ummat Islam yang rigid (kaku), tertutup, dan anti kemajuan. Sekaligus menyelamatkan generasi muslim yang cenderung gampang marah dan tidak jarang serba politis atas nama agama.

Akhirnya kita harus mengubah ancaman globalisasi yang dikendalikan barat dengan segenap potensi kemanusiaan kita menjadi mutiara bagi kemajuan ummat kedepan dengan menyelami kembali khazanah Islam yang luas, yang mencerahkan. Sehingga globalisasi bukan media penghacuran dan penzaliman terhadap satu bangsa baik secara ekonomi, politik dan budaya tapi juga sebagai alat menguatkan peradaban yang berbasis pada Islam yang rahmatan lil alamin. Semoga!

Muhammad Dayyan
http://dayyan77.blogspot.com/2011/05/meretas-jalan-pencerahan-islam-di.html
+6281360380100
+60102713735

WAA Akan Gelar Promosi Aceh dan Sabang di Denmark

World Achehnese Association (WAA) akan menggelar promosi Aceh dan Sabang pada awal bulan juli ini di Denmark.

Promosi tersebut sesuai rencana akan di adakan di kota Aalborg (kota nomor empat terbesar) dan juga kota Aarhus (kota nor dua terbesar), acaranya itu nantinya akan di isi dengan tarian aceh, pembagian brusur tentang Aceh serta foto – foto keindahan alam Aceh, dan kemungkinan juga akan di sertaka dengan makanan khas Aceh.

WAA juga sedang cuba mempersiapkan agar pameran tersebut bisa di isi dengan memperlihatkan hasil bumi Aceh, seperti kopi, dan juga hasil kerajinan tangan masyarakat Aceh (buatan Aceh) ke pada masyarakat Denmark, namun hal ini sangat tergantung pada partisipasi berbagai pihak di Aceh, kami berharap ada yang akan memanfaat kan acara ini untuk mempromosi Aceh.

Denmark merupakan salah sebuah negara yang rakyatnya suka melancong ke berbagai penjuru dunia setiap tahun, begitu juga Denmark ketika musim panas turut menjadi pilihan pelancong dari negara lain, kita berharap Aceh bisa salah satu destinasi yang menarek bagi rakyat Denmark nantinya.

Untuk melengkapkan acara ini, maka WAA turut menyusun beberapa agenda penting bagi para delgasi dari Aceh, Pertemuan silaturrahmi antara tamu tamu dari Aceh denga masyarakat Aceh Denmark, kunjungan ke perusahaan – perusahaan yang di anggap perlu, serta ke destinasi wisata dan lokasi pertanian di Denmark.

Dengan itu berbagai saudara di Aceh, yang ingin ambil bagian pada acara ini, serta menjangkut dengan pengurusan visa, kami meminta agar menghubungi Hoeuse of Aceh (HoA) atau Aceh Institute dengan menghubungi Ahmad Riyas, Mobile (hp) 081377344886, Email rizpashe@gmail.com .

Demikian, kami sampaikan semoga kita dapat bersama mewujudkan kegemilangan Aceh.

Fajerritslev, Denmark
Rabu 25 Mei 2011
Tarmizi Age/Mukarram
Koordinator WAA


Tarmizi Age/Mukarram
World Acehnese Association ( WAA )
Ban sigom donja keu Aceh !

Sekretariat:
Molleparken 20,
9690 Fjerritslev,Denmark,
Mobile:0045 24897172
acehwaa@gmail.com
www.waa-aceh.org

waalaikum salam

trims atas apresiasinya, itu tulisan dari rekan saya NS.Edy Mulyadi, S.Kep, CWCC dosen STIKes Cut Nyak Dhien Langsa

Korupsi  Bikin Aceh Tidak Sihat

”Kalau boleh, korupsi di hentikan saja di Aceh agar pembangunan bisa mecapai kejayaan yang gemilang sekaligus agar kebutuhan rakyat bisa terpenuhi”.

Berkaitan dengan persiapan pemilu kada Aceh, kami mengharapkan agar semua pihak seboleh-bolehnya bisa menjauhi  tindakan-tindakan yang menjurus kepada kejahatan keuangan, semoga rencana pemilu kada Aceh bisa berjalan tepat waktu, aman dan damai serta selamat dari korupsi. Pemilu yang korup biasanya akan melahirkan pemimpin yang korup.

Sangat di sayangkan, bahwa sendi-sendi  pembangunan di Aceh rusak dan hancur karena korupsi, korupsi telah menghalang cita-cita rakyat Aceh untuk menikmati kebutuhan infrastruktur yang goet (good), mereka tidak mendapat  pendidikan yang baik serta sulitnya mendapat pekerjaan yang layak untuk pendapatan yang stabil, korupsi juga dipercayai telah menyuburkan kekerasan di bumi Aceh serta telah ikut berperan menghalalkan segala cara.

Menyangkut dengan berbagai persoalan social yang komplet termasuk korupsi di Aceh, kami mendukung iktikat baik  “Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh menyatakan komitmennya terhadap pemberantasan korupsi dan mendukung sepenuhnya kerja-kerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baik di tingkat nasional secara umum, maupun di tingkat Aceh secara khusus”. Somoga komitmen ini bisa di implementasi di lapangan.

”Kami mendukung kerja –kerja lembaga anti korupsi di Aceh”, Korupsi merupakan salah satu ajaran yang harus di perangi di bumi Aceh, Korupsi bikin Aceh tidak sihat.

Demikian,

Fjerritslev Denmark

Selasa 5 April 2010

 

Tarmizi Age/Mukarram

Koordinator

World Achehnese Association (WAA)


Tarmizi Age/Mukarram
World Acehnese Association ( WAA )
Ban sigom donja keu Aceh !

Sekretariat:
Molleparken 20,
9690 Fjerritslev,Denmark,
Mobile:0045 24897172
acehwaa@gmail.com
www.waa-aceh.org